Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

CINTAKU DI BALIK PENJARA

“ jon...jon...oper ke aku...cepat...!!” pintaku
“ ini tio.., dukk !!!” jon mengoperkan bola ke arahku yang sudah siap dimulut gawang lawan. Aku lari mengejar bola tanpa mempedulikan orang disekitar. Tiba-tiba “ braaakkkk.....” Saking semangatnya aku berbenturan kepala dengan dimas rebutan bola.  “ aww...sakiitt.” rintihku
“ oh my God...tio..km apa-apaan sih...” bilang dimas agak emosi.
“ kamu tuh, mas... taruh mata di mana?” sahutku sambil menahan kesakitan
Setelah beberapa saat aku dan dimas kesakitan akhirnya permainan bola minggu pagi itu usai. kita seperti biasa lagi. Seakan-akan kejadian itu diterjang angin kencang musnah terlupakan.
“ hi friend, aku pulang dulu ya...” teriakku ke teman-temannya.
“ ok..jangan lupa sabtu sore main lagi....” sahut teman-temanku.
Aku mengambil motor yang diparkir di pinggir lapangan. Dengan keringat yang masih membasahi tubuh, ku genjot motor dan langsung ngacir. Aku ngebut menelusuri jalanan kota kejar-kejaran dengan mendung yang siap menyiram Bandung.
Jalanan saat itu agak sepi. Yaa...mungkin orang enggan keluar karena cuaca kurang bagus. Aku semakin kencang dengan kawasaki ninjaku. Namun tiba-tiba...” sttttttttttttt..........ciiiittttttt...prakkk.....” aku terjatuh berguling-guling dijalan.
Beberapa saat kemudian....
“ Di mana aku ini..??” mataku mulai terbuka. Masih samar-samar aku lihat orang disekitarku.
“ Tenang mas...km di rumah sakit sekarang “ terdengar suara cewek dideketku.
“ Mas, maafkan aku...tadi aku nyeberang gak lihat jalanan, mas menghindariku dan terjatuh...” terang cewek itu sambil memperbaiki posisi kakiku.
“ aku yang mambawa mas ke sini ...” tambahnya
“ ohw...kepalaku pusing banget , tadi aku terbentur apa...?” tanyaku.
Cewek itu menunggui sesekali memperbaiki posisi tubuhku yang bergeser dari tempat pembaringan. Aku baru tahu kalau nama cewek itu rini. Seorang mahasiswi semester 3 di universitas swasta di Bandung.
“ Mas, ini alamat rumahku, siapa tahu mas tio mau komplain apa ke aku...” rini menyodorkan kartu namanya.
Setelah 2 hari aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Kondisiku sudah agak mendingan, walaupun masih terasa kaku diseluruh tubuh. Seminggu setelah pulang dari rumah sakit kondisiku pulih total. Di saat kesendirianku, aku ingat gadis cantik yang sempat aku tabrak waktu itu, ya rini namanya
Masih aku simpan kartu nama yang dia berikan waktu itu. Rini,  jln Ir juanda blok B.12  kota Bandung.  “ aku baru menyadari begitu cantiknya kamu, rin. seandainya aku bisa memilikimu....” pikiranku malayang jauh menembus dinding kamarku.
 “Drrr… Drrrrrr… Drrrrr….” aku tersentak kaget, lamunanku buyar oleh getar Handphone di meja
“Ya halo….?” aku memulai menyapa.
Tio, maen yuk!” ajak seorang cewek dengan suara centil di sebrang sana. “ogah ah…!” jawabku spontan. Aku tahu nadya pasti ngajak aku shoping,  Huft..biasa hobby kebanyakan cewek. Nadya adalah anak temen tanteku yang sempat main dan kenalan ketika mengantar ibunya arisan di rumah tanteku.
“yakin nih??” jawab Nadya disana.
“Iya!, ajak saja Meta. dia pasti mau” seruku.
“Yah Tio ga asik, awas loh jangan kebanyakan bengong di kamar nanti kesambet” nadanya menggangu.
“Udah sana pergi, jangan gangguin aku, lagi bt, nih !” jawabku. Tut…. tut… tut… aku tutup paksa handphoneku. Entah mengapa hari ini aku merasa pengen sendiri.
“Drrrrr Drrrrrr Drrrrr…”  Hapeku kembali bergetar. Pasti Nadya lagi pikirku.
“Apa lagi sih?? Udah aku bilang aku lagi ga mau keluar Nad!!” jawabku ketus dan kesal.
“halo....!!  maaf , betul ini dengan Tio?” seorang dengan suara lembut terdengar di seberang sana. Oh My, bukan nadya ternyata. Waaah aku malu bgt! Dengan emosi yang mereda aku segera menjawab
“ya betul, maaf siapa , ya?” Jawabku dengan nada bersalah.  “aku rini. Masih inget kan?” tanyanya.
“ Oh..rini..masih..masih “ aku manjwab terbata-bata.
10 menit lebih aku berbincang-bincang dengan rini melalui handphone di sore itu. Suaranya terdengar lembut di telinga. “Hmm...jangan-jangan aku jatuh hati, nih sama dia...” pikirku
 “ eh..boleh aku main ke kosmu?” aku memberanikan diri
“ boleh, kok. Main aja ke sini. Aku lagi di kost nih..” jawabnya.
“ ok...aku segera meluncur..tunggu, ya” aku begitu bersemangat.
Petang itu aku meluncur mencari alamat yang pernah diberikan rini kepadaku. Sesekali aku bertanya ke orang di pinggir jalan. Maklum aku bukan asli orang bandung, jadi gak hafal jalan yang ada di kota Bandung.
Setelah beberapa lama aku mencari, akhirnya aku menemukan sebuah kost-kost an yang depannya penuh dengan tanaman bunga. “ wah, bagus banget kostnya...asri..” pikirku. Aku lihat di tiang pagar depan ada tulisan B.12. “ Iya benar..ini alamat kostnya rini” kuyakinkan diriku. Aku mendekati pagar besi yang menghadang tepat di depanku. Aku mencoba memejet bell yang terpasang rapi ditiang pagar yang dihiasi batu alam itu.
“tet...tet...”  suara bell berbunyi. Namun tidak ada seorangpun yang keluar. Aku penasaran...’ tet..tet...” aku coba ulangi. Tiba-tiba muncul sesosok gadis berparas cantik dengan tinggi badan semampai keluar dari pintu menggunakan celana pendek  dengan hem putih lengan panjang. Akupun bergegas mendekatinya. ‘ hai, rin. Apa kabar? Sapaku
“baik, tio..gimana kabarmu. Dh sehat, kan?  Mari masuk, silahkan..!” rini mengajakku masuk ke dalam kostnya
Aku amati kamarnya dari sudut ke sudut, semua serba tertata rapi. Harum kamarnnya mengingatkan pada kamarku yang ada di jogja.
“ eh kok melamun...” dia mempersilahkan duduk di springbed tempat tidurnya.
Gak tau petang ini rini keliatan cantik dan seksi sekali.  Aku mulai mengobrol santai dengan rini. Sesekali dia tertawa kecil memperlihatkan gigi taringnya yang mungil. “ hmm...andai aku bisa memilikinya...” lamunanku kembali menggoda.
“ hai....kok melamun...hayo melamunin yang di jogja, ya? “ candanya
“nggak, kok..” kilahku.
 “Mau minum apa?” tanya rini dengan muka ceria
“ “Hmm adanya apa?” tanyaku balik
“Kopi? teh? jus orange? ato cendol?” jawab rini dengan nada canda.
“macam kafe aja, hahahahaha…” aku tertawa.  “Hmm... kopi aja, deh.. jawabku sambil tersenyum. Rini pun bergegas ke dapur membuatkan kopi yang aku pesan.
“tadaaaa…. lama ya nunggunya?” rini datang dengan secangkir kopi panas. Aku berdiri sambil melihat foto-foto yang terpasang rapi di dinding kamar kosnya. “sori ya kamarku sempit” rini mengawali perbincangan sambil meletakkan secangkir kopi hitam di bangku sudut kamar.
nggak kok, kamarmu bersih, rapi  dan cantik. Sama seperti orangnya...hehe..  Aku mulai mengeluarkan jurus gombalku. “makasih” dia balas dengan tersipu. Rini mencoba menyembunyikan pipinya yang merah.
Kami berbincang cukup lama tentang keluarga, pendidikan, hobi dan lain-lainnya.  Sesekali dia mengeluakan candaan yang kadang membuatku tertawa terpingkal.
“By The Way, cowokmu ga marah ni aku berkunjung ke sini?” Aku mencoba bertanya lebih jauh.
 “Gak... Gak apa-apa, Kok.... Eh diminum dong kopinya” Rini bergegas mengambilkan secangkir kopi dari meja  di sudut ruangan.  “sreeet, Byurrrrr. aaaaaaaah” Huff....tiba-tiba kopi panas itu menyiram kemeja biruku. Sontak aku kepanasan.
“Sorry-sorry...”  rini bergegas mendekat dan mengusap-usap dadaku “Please... Sori, aku gak sengaja” sambil terus mengusap dadaku. Disela-sela kepanikannya, diam-diam aku melihat dadanya yang montok yang tertutup kemeja putihnya yang tipis. “ Oh My God...” pikirku .
Waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam. Akupun berniat untuk pamit pulang. “ rin, dah malam, nih. Aku pulang dulu, ya! Seruku. Dia cepat-cepat memegang tanganku. Aku yang gak terbiasa dipegang tanganku oleh cewek jadi kikuk. “ mas, nginap sini aja, ya? Aku nggak ada temen, nih, please ya, mas!!” rini merengek sambil merayuku. Bener-bener jantungku berdetak gak karuan iramanya. Perasaan takut, cemas, kikuk bercampur baur jadi satu. “ rin, nggak enak aku nginap dikostmu. Nanti aku dikira ngapa-ngapain denganmu”. Aku memberinya alasan. “ gak apa-apa, kok mas...” dia menjawab sambil memegang tanganku.
Aku tersontak kaget ketika tiba-tiba dia menciumiku dan memelukku erat sekali. Nafasnya terdengar ngos-ngosan seperti habis lari cepat 100 m. Entah setan apa yang merasuki kami berdua, kamipun terlibat hubungan terlarang layaknya suami istri. Sekali....dua kali..tiga kali ....
 Aku terbangun ketika jam wecker berbunyi, Aku lihat rini masih telanjang memelukku. Aku pandangi mukanya yang cantik. Aku mulai bingung dengan apa yang telah aku lakukan semalam. Making Love tanpa menggunakan pengaman. “ Oh My god...gimana kalau dia hamil...”  aku bener-bener gak tenang pagi itu. Tiba-tiba rini terbangun dan kaget melihat dirinya telanjang tanpa sehelai benangpun. Dia teriak   “Tioooo.....!!??  kamu....Kamu...Oh..” Aku lihat mukanya memerah manahan amarah,  memukili dadaku sambil menangis terisak-isak. “ Tio...aku takut hamil..., aku takut, tio...”ratapnya.
Seminggu setelah kejadian itu. Rini tidak ada kabar lagi. Setiap aku call, Hpnya tidak pernah aktif. SMS pun tidak pernah dia bales.
Senin, 5 Desember 2011
“ ting tong....ting tong...” suara bell berbunyi
Aku mendengar seperti ada orang yang memejet bell.  Dengan lunglai dan mata masih kantuk, aku bangun dan menuju ruang depan. “ kreek.” Aku membuka pintu
“ Maaf, bener ini rumahnya Tio sadewa....?” tanya seorang tinggi besar berkumis dengan jeket kulit di badannya. Aku lihat mobil polisi terparkir diluar pagar rumah tanteku.
“ Benar, pak...” jawabku. “ ada apa ya, pak?” tanyaku setengah bingung.  Aku menenangkan diri dengan berpikir positif. Hmm...mungkin mereka berdua rekan kerja omku.
“ Maaf, mas tio ikut saya sekarang juga ke kantor polisi, nanti kita jelaskan di sana” terangnya. Aku ketakutan setengah mati karena selama hidup tidak pernah berurusan dengan polisi. “ ini ada apa, pak?....saya salah apa? Nggak...nggak mau....!!” aku meronta.
Kedua orang itu menarik paksa tanganku. Aku pun terus meronta tidak mau ikut kedua orang itu. Aku gak kuasa lagi karena badan kedua orang itu lebih besar dan lebih kuat. Akupun digelandang masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan. Sesampainya di kantor polisi aku melihat wajah yang sudah tidak asing lagi. Iya....rini. Dia di temeni laki-laki setengah baya dan seorang ibu duduk sampingnya. Aku lihat dia menundukkan wajahnya seakan takut menatapku.
“ Begini mas tio...ada laporan yang masuk ke kami bahwa mas tio telah melakukan tindak pidana asusila pemerkosaan terhadap seorang gadis bernama rini..” terang polisi berseragam. Sontak aku kaget setengah mati dan mendadak badanku lemas tidak bertenaga. “ rin...kamu....tega sekali rin...” mataku berkaca-kaca.   
Semenjak itupun aku menjadi tahanan kepolisian. Sesekali tante dan omku menjenguk dan memberiku support supaya tetap tenang. Mereka meyakinkan kalo aku pasti menang dipengadilan nanti.
Tiga bulan setelah berkas selesai ,  akhirnya akupun dihadapkan ke meja hijau. Melalui proses yang panjang dan melelahkan. Akhirnya hakim ketua memutuskan aku bersalah dengan bukti-bukti yang ada.
12 tahun penjara. Ya Tuhan...Ampunilah dosaku. Dengan muka sembab aku terima keputusan itu. Akupun di kawal petugas untuk keluar dari ruang sidang tersebut. Aku berhenti sejenak tepat dihadapan rini. “ rin...tataplah aku “ pintaku. Dia mulai mengangkat kepalanya dan dengan muka sayu dia menitikkan air mata.
“ rin...aku mencintaimu...” air mataku keluar tak tertahankan. Aku liat rini menangis sejadi-jadinya.
Setelah persidangan itu. Hari-hari aku lalui di dalam jeruji besi. Sepi pengap menambah sesak dadaku. Setahun sudah aku menjalani hidupku di penjara.
Aku lihat ada seorang sipir jalan menuju ke arahku “ mas tio..ada tamu tuh...”. Akupun berpikir mungkin omku atau tanteku yang datang. Akupun bergegas menuju ruang khusus untuk pertemuan dengan tamu. Sesaat aku pelankan langkahku.  Aku lihat di depanku wajah cantik yang tidak akan pernah aku lupakan selama hidupku, dia yang aku cintai...dia yang memasukkanku ke jeruji penjara.
Aku berlari dan memeluk nya erat-erat...seakan tidak mau lepas lagi. “ rin aku mencintaimu....” sambil menangis aku memeluknya.  Aku usap air matanya yang terus mengucurkan. “ rin ini siapa??” tanyaku. ‘ mas..ini anak kita “ jawabnya. Aku teriak histeris mendengar jawaban rini. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku peluk, aku ciumi anakku sampai dia menangis ketakutan. “ nak...maafkan  bapakmu ini...kamu mirip sekali sama bapak..” sambil terus aku menciuminya walaupun dia terus meronta.
“ Mas...aku juga mencintaimu...ayahku yang  gak terima dan melaporkan mas ke polisi..maafkan aku mas..semua salahku..” sambil terus menangis di dekapanku
Tiga tahun sudah aku dipenjara. Batinku terus tersiksa ketika ingat rini dan anakku, sesak dadaku kadang terpikir untuk mengakhiri hidup. Ya Tuhan kuatkan hatiku.
Lima tahun waktu berlalu. Hari ini  tante , om,  rini dan keluarganya menjengukku di penjara. Aku merasa heran saja. Tidak biasa orang tuanya rini mau menjengukku di penjara. Aku peluk erat rini dan anakku. “ rin...jangan tinggalkan aku..aku takut rin...” sambil menangis aku meminta. Aku pun menciumi anakku yang masih berada di gendongannya rini.  Sesaat aku mendengar suara yang keluar dari mulut ayahnya rini “ tio...maafkan om..harusnya om tidak memasukkanmu ke penjara. Om memang egois. Ini kesalahan terbesar dalam hidup om. Memisahkan kalian yang saling mencinta. Maafkan om, tio..”
Akhirnya orang tuanya rini mencabut tuntutannya. Aku tinggal menunggu sampai surat keputusan bebasku turun. Hari-hari masih aku lalui di jeruji penjara. Setiap keheningan malam aku selalu teringat wajah rini dan anakku yang lucu. Aku membayangkan sedang apa mereka malam ini. “ Aduh, perutku sakit...aduw..sakit..” sambil aku memegangi perutku. Mendadak tubuhku gemetar hebat mukaku pucat pasi menahan sakit. Ya Tuhan  seandainya nyawaku Engkau ambil malam ini aku ikhlas. Terimakasih telah mempertemukan aku dan anakku, dengan orang yang aku cintai. Terima kasih telah menyadarkan kedua orang tua orang yang aku cintai. Bapak, Ibu maafkan anakmu...
( keesokan harinya semua penghuni lapas geger dikejutkan dengan meninggalnya tio sadewa di kamar  tahanannya. Sekujur tubuhnya terlihat membiru. Namun raut mukanya seperti memancarkan senyuman yang penuh makna. Kabar itu sampai ke rini dan keluarganya.
 “ Tidaaaakkkkkkkkkk.....mas Tio..........tidaakkkkkkkkkkkkkk” teriak rini histeris. Rini sebentar-sebentar jatuh tak sadarkan diri. Suara sirene ambulan  menambah hiruk pikuk jalanan kota Bandung pagi itu. Jenasah Tio sempat disemayamkan di rumah bibinya. Rini yang telah menunggu langsung memeluk jenasah Tio, sesekali jatuh tak sadarkan diri. Tak lama kemudian jenazah Tio terbangkan ke jogja. Semenjak kepergian Tio, rini tidak mau menikah lagi. Dia habiskan hari-harinya untuk membesarkan anak hasil hubungannya dengan Tio. “ mas tio....aku kangen kamu mas, tunggu aku. Kita akan ketemu di surga. Kita akan bahagia selamanya”

Selasa, 13 Desember 2011

Aku Mengkhianati Suamiku

… Suamiku tertidur di sebelahku, aku mengamati dan memandangnya… Ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu… Ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti ini…
Pembaca.. kisahku ini dimulai ketika aku diterima menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta di sebuah kota di Kalimantan. Belum lama aku bekerja di perusahaan tersebut tepatnya baru 5 bulan, bosku memperkenalkan aku dengan sahabatnya.
Sahabat bosku ganteng, kaya, dewasa, pekerjaannya pun mapan, jika dibandingkan dengan pacarku atau lebih tepatnya bisa dibilang suamiku karena kita diam-diam sudah menikah sirih, tetapi perusahaan tidak pernah tahu kalau aku sudah menikah karena masa dinas yang tidak memperbolehkan karyawan menikah sebelum satu tahun bekerja. Suamiku hanya seorang admin di sebuah perusahaan asuransi dan masih menyelesaikan kuliahnya, jika dibandingkan dengan sahabat bosku yang sudah mapan, kaya, dan ganteng itu sungguh sangat jauh berbeda.
Awalnya aku menolak menerima cinta sahabat bosku tersebut, dengan menangis-nangis dia memohon agar aku mau menerima cintanya. Tapi memang awalnya aku belum tertarik padanya, aku merasa tahu diri bahwa aku sudah bersuami dan aku sangat mencintai suamiku itu, dengan membayangkan masa-masa dulu bahagia dengan cinta yang kami bina.
Tetapi dengan penuh cinta, sahabat bosku tersebut berusaha terus mendekatiku. Dia menelpon, sms, menghubungiku melalui Facebook, dan dengan cara-cara lainnya. Meskipun dia jauh di Jakarta, tetapi tidak memupuskan semangatnya untuk mengejarku. Tanpa disadari aku mulai kehilangan dia ketika dia sehari saja tak menghubungiku, aku merindukannya ketika sejam saja dia terlambat menanyakan aku apa sudah makan siang atau belum, aku merasa nyaman dengan kedewasaanya, kasih sayangnya, dan semua perlakuannya kepadaku.
Pada suatu hari kami bersepakat untuk bertemu, dia bela-belain ke Kalimantan hanya untuk menemuiku. Dia utarakan niatnya untuk memperistriku tapi karena aku juga mulai mencintainya akupun berniat memilihnya untuk menjadi suamiku yang sebenarnya. Aku berniat untuk meminta cerai talak kepada suamiku yang sekarang. Tapi karena aku tahu bahwa aku sudah tidak perawan karena aku sudah menikah sirih dengan suamiku yang sekarang. Kuceritakan kondisi diriku yang sebenarnya kepada sahabat bosku tersebut.
Dia menangis seolah tidak terima bahwa seseorang yang sangat dicintainya dan dipilih untuk menjadi istrinya tidak sesuai dengan kriteria dirinya dan keluarganya. Dia bilang kalau dia pribadi bisa menerima aku apa adanya karena dia sangat mencintaiku, tapi untuk memperkenalkan aku kepada keluarganya dia bilang belum bisa dan belum sanggup melakukannya.
Dia tak tahu apakah keluarganya mau menerimaku atau tidak jika calon menantunya adalah seorang janda. Karena di dalam keluarganya harga diri, nama baik, status sosial, bibit, bebet, dan bobot adalah sangat menjadi pertimbangan.
Aku sangat kecewa dengannya, aku berusaha melupakannya setelah pertemuan itu, tetapi tidak kusangka dia tetap menelponku meski dia tahu bahwa aku tidak seperti yang dia mau. Dia tetap berusaha menjaga hubungan cinta kami. Lama kelamaan aku menyadari bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Aku tidak pernah merasakan cinta seperti dia mencintaiku, mengagumiku. Aku merasa menjadi wanita yang paling cantik dan sempurna di dunia karena dicintai seseorang pria dewasa seperti dia.
Akhirnya kita tetap berhubungan, tak ayal berhubungan badanpun sudah menjadi suatu kebutuhan dan sebuah ungkapan untuk kami melepas rindu. Meski jarak memisahkan kami tetapi tidak memupuskan semangat kami untuk memadu cinta. Sebulan sekali kami pasti bertemu, entah dia yang ke Kalimantan atau aku yang ke Jakarta hanya untuk menemuinya. Meski aku harus berbohong kepada keluarga besarku dan suamiku soal seringnya aku harus keluar kota. Aku selalu membuat alasan kalau aku mendapat tugas dinas keluar kota dari kantor. Dengan penuh kesabaran suamiku selalu mengantarkan aku ke bandara jika aku mau ke jakarta dan menjeputku lagi di bandara saat aku kembali ke Kalimantan.
Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu, kami terus memadu kasih melalui dunia maya, handpone dan sebagainya. Suatu hari keluargaku berniat menikahkan aku secara resmi dengan suamiku, aku bingung harus berbuat apa. Sedangkan aku sudah tidak mencintainya lagi, semua sudah pudar seiring berjalannya waktu. Tetapi aku pun tidak pernah mendapat kepastian dari sahabat bosku itu tentang hubungan kami.
Hubunganku dengan sahabat bosku yang tidak tahu kemana akan dibawa membuatku berpikir dua kali. Sampai kapan aku terus mengharapkannya, sedangkan dia seolah lebih mencintai keluarganya dibanding aku. Meskipun dia rela melakukan apa saja untukku tapi tidak untuk menentang keluarganya demi aku.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjalani pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku kepadanya sudah tidak seperti dahulu lagi tapi aku tidak ada pilihan lain. Daripada aku menunggu selikuhanku yang tidak pernah ada kepastian. Dan akhirnya aku pun menikah resmi.
Sahabat bosku itu terus menelponku dan menangis, dia merasa dia juga tidak bisa berbuat apa-apa atas kehidupannya bersamaku. Tapi entah mengapa aku merasa nyaman, tenang, dan bahagia atas pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku tidak lagi sepenuhnya seperti dahulu.
Hari demi hari aku lalui dengan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik di depan suamiku meski aku tidak setia kepadanya. Hubunganku dengan selingkuhanku pun terus berlanjut, tak berbeda dengan sebelum aku menikah kami tetap saling mengunjungi entah aku ke Jakarta atau dia yang ke kalimantan. Dia tetap mencintaiku seperti dulu, tidak berubah. Dia tetap mengagumiku, memujaku seperti dulu, bahkan kami sempat untuk berencana memiliki anak. Kami terus berusaha untuk bisa segera punya anak, sama seperti suamiku yang ingin segera memiliki anak dari pernikahan kami.
Satu bulan, dua bulan, akhirnya bulan keempat pun tiba. Aku merasa tidak mendapatkan haid di bulan itu. Seminggu setelahnya aku periksa kedokter ternyata hasilnya positif, iya aku hamil. Meski aku belum tahu anak siapa yang aku kandung tapi berita ini membuat kedua laki-laki yang sama-sama mencintaiku itu sangat bahagia.
Tapi entah kenapa aku tidak yakin kalau ini anak selingkuhanku, karena dilihat dari frekuwensi kami bertemu hanya sebulan sekali, meski setiap kali kami bertemu kami pasti berhubungan badan. Pernah suatu hari selingkuhanku menanyakan kepastian siapa bapak dari anak yang aku kandung, tapi aku meyakinkan dia bahwa untuk tidak terlalu berharap karena menurutku labih baik dia kecewa sekarang daripada nanti setelah aku melahirkan, dia lebih kecewa lagi ketika dia tahu bahwa si kecil ngga mirip dia.
Hari ke hari, bulan ke bulan, sampe akhirnya tiba waktu aku melahirkan. Suamiku yang setia menungguiku dari awal aku merasa kesakitan sampai saatnya aku bertaruh nyawa melahirkan anakku, anakku yang aku belum tahu siapa bapaknya. Dari pagi sampai pagi lagi suamiku dengan sabar mendampingiku, memberiku support dan semangat. Sampai dia tertidur di sebelahku, aku mengamatinya dan memandangnya ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu. Seandainya dia tahu perbuatanku yang sangat bejat ini mungkin dia tidak akan pernah mau melihat mukaku lagi dan mungkin aku akan kehilangan laki-laki yang sangat setia dan baik ini.
Rasa ibaku muncul, tiba-tiba aku ingat masa-masa dulu aku bersamanya merajut cinta. Susah senang kami jalani bersama tanpa mengeluh. Cintaku kembali bersemi untuk suamiku, rasa iba itu membawaku kembali mencintainya, menyayanginya, ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Ternyata aku sadari bahwa masih ada setitik rasa cinta untuk suamiku.
Akhirnya aku pun melahirkan buah hatiku, yang banyak orang menantinya. Dia cantik, putih bersih, mungil. Wajahnya mirip sekali denganku, tetapi bentuk tubuhnya mirip sekali dengan ayahnya, ya! Ayahnya yang tegap, tinggi besar, dan bertulang besar, dia adalah suamiku. Suamiku yang sah yang akupun mulai mencintainya lagi, menyayanginya. Ternyata bapak dari anakku adalah suamiku yang sah, entah kenapa pula aku sangat bahagia mengetahui bahwa ayah kandung dari anakku adalah suamiku sendiri, suami yang sah, yang aku khianati sejak lama.
Akupun menelpon selingkuhanku untuk memberi tahu kabar baik ini kepadanya, meski belum tentu ini adalah kabar menggembirakan buat dia. Setelah kuberi tahu, dia seolah sudah siap atas segala kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan bahwa si mungil cantikku itu bukanlah keturunanya. Kami sempat berkomunikasi melalui video call di rumah sakit, dan akupun menunjukkan si kecil padanya.
Dia tetap bahagia meski dia tahu bahwa anakku bukan darah dagingnya. dia selalu menanyakan kabar anakku setiap dia menelponku. Dia juga ikut cemas jika si kecil sakit. Bahkan dia mengirimkan kado istimewa untuk si kecil. Aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah cintanya buatku. Seperti apapun kondisiku dia tetap mencintaiku dan memujaku.
Tapi aku kini telah sadar, aku mulai mencintai suamiku lagi, mulai menyayanginya lagi. Dan aku pun mulai jarang menghubungi selingkuhanku. Tapi meski begitu dia tidak pernah putus asa untuk selalu menjalin hubungan baik denganku. Baginya meskipun dia tidak bisa memilikiku paling tidak dia tetap bisa berteman denganku, tahu kabarku. Bahkan dia mengirimkan uang untuk kado si kecil. Membelikan boneka saat dia ke kotaku di kalimantan. Aku sangat menghargai cintanya buatku, tapi aku sadar bahwa aku sudah bersuami dan bahkan sekarang ada si kecil yang selalu membuatku sadar akan kodratku dan statusku.
Aku menyanyangimu Suamiku.. meski di hatiku sudah terbagi dengan yang lain meski secuil. Maafkan aku, tapi aku berjanji aku tidak akan meninggalkan kalian suamiku dan anakku, kalian tetap nomor satu bagiku. Aku mencintai kalian, kalian adalah semangat hidupku.

Senin, 12 Desember 2011

Daun yang Jatuh.....

Daun yg jatuh tidak pernah membenci angin


Aku menatap lekat-lekat foto gadis berlesung pipit, Aurel. Mataku seakan tak bisa lepas memandanginya. Sama seperti otakku yang tak pernah bisa menghapus memori tentangnya. Sama seperti hatiku yang tak pernah bisa berhenti memanggil namanya. Tiga tahun ini aku menganggap Aurel sebagai masa lalu yang kini tak pernah tergapai, walaupun aku sangat mengharapkannya. Tiga tahun ini aku dan Aurel dipisahkan oleh  tembok-tembok ruang dan waktu yang tak jelas batasannya. Tiga tahun ini aku tak pernah sekalipun menjenguk wajah purnamanya. Huh! slide-slide film otakku kembali memutar potongan-potongan kisah tiga tahun lalu.
* * *
“Aku nggak setuju Ndra, kamu ikut balapan itu,” kata Aurel ketus. Aku mendengus sebal. Ini yang ketiga kalinya Aurel melarangku untuk ikut balapan bersama teman-temanku.
“Nggak Rel, aku akan tetap ikut balapan itu! Sudah dua kali Rel, aku menolak permintaan mereka untuk adu balap denganku. Mereka sudah sangat kecewa padaku.”
“Oh  begitu, kau lebih suka bila aku yang kecewa!” Nada bicara Aurel mulai meninggi. Aku mencoba untuk sabar.
“Bukan begitu Rel, ini cuma balapan biasa. Aku tak ingin teman-temanku kecewa. Aku pun juga tak ingin kau kecewa padaku, Rel.” Aku mencoba menyakinkan gadis yang  sangat kusayangi ini, tapi nampaknya Aurel tetap pada keputusannya.
“Aku nggak suka Ndra kamu ikut balapan. Aku nggak mau sesuatu terjadi padamu Ndra. Aku nggak mau!” Aku memandang kilat di mata  Aurel. Aku tahu gadis itu sangat mencintaiku.
“Aku akan baik-baik saja Rel, sekali lagi kukatakan padamu ini cuma balapan biasa!”
“Nggak Ndra! Aku nggak mau kamu ikut balapan itu.” Amarah Aurel semakin menjadi-jadi.
“Ok, kalau begitu aku akan ikut kau balapan Ndra.” Aku terkejut dengan perkataan Aurel. Selama ini dia sangat penakut, bahkan sampai sekarang gadis pujaanku ini takut mengendarai sepeda motor sendiri.
“Nggak Rel, kau jangan ikut balapan itu. Aku……” Aku tidak melanjutkan kalimatku
“Aku apa, Ndra? Kau takut terjadi apa-apa padaku? Aku akan tetap ikut. Aku akan selalu bersamamu, Ndra.” Aku hanya bisa pasrah dan mengijinkan Aurel ikut balapan. Aku yakin kami akan baik-baik saja, seperti balapan yang sudah kuikuti sebelumnya.
Minggu pagi. Alan, Danu, Rendy, dan beberapa teman mereka telah siap untuk bertempur dalam balapan motor ini. Sebenarnya jalan yang kami gunakan bukan arena balap, jalan ini hanya jalan sepi yang jarang dilalui kendaraan. Di belakang, Aurel memelukku dengan sangat erat. Aku memegang tangannya untuk menenangkan. Dingin! Tak pernah aku merasakan tangan Aurel yang sedingin ini. Semua telah bersiap-siap dan memanasi mesin.
“Ok, Man. 1….2…..3……go!!”
Motor-motor pun dipacu dengan kecepatan tinggi. Asap-asap menari-nari bersama bising kendaraan yang memekakkan gendang telinga. Kurasakan Aurel semakin erat memeluk tubuhku. Kupacu motor dengan kecepatan penuh. Dan sekarang aku telah berada di posisi terdepan. Aku memang terkenal sebagai jagoan balap di kalangan teman-temanku. Memang akulah yang paling hebat! Memang akulah juaranya!
“Brukk!!!”
Tiba-tiba sebuah mobil menyebrang jalan. Kecepatan yang tinggi membuatku tak bisa mengerem ataupun menghidari mobil hitam tersebut. Sepeda motorku oleng bersama tubuhku yang terpelanting jauh.  Sempat kurasakan darah merembesi keningku. Tiba-tiba  semua gelap. Aku tak sadarkan diri.
Entah bagaimana tapi aku sudah berada di rumah ketika membuka mata. Ibuku mengatakan kalau aku sudah terbaring di sini selama delapan hari.
“Aurel!! Mana Aurel, Ma? Dia baik-baik saja kan?” Aku langsung teringat belahan jiwaku itu saat aku baru sadar dari koma.
“Tenanglah Ndra, Aurel akan baik-baik saja. Keluarga Aurel telah membawanya ke rumah sakit di Jakarta untuk berobat.”
“Apa, Ma! Separah itukah keadaan Aurel, Ma? Ini semua karena Indra, Ma, harusnya  Indra nggak ikut balapan itu.”
“Tenanglah Ndra, Aurel akan baik-baik saja. Sekarang kamu istirahat saja,” kata Mama menenangkanku  sambil merapikan selimut dan meninggalkanku sendiri.
Aku sedih bukan main. Rasa bersalah menghimpit-himpit dan menyesakiku. Aurel kau di mana? Maafkan aku Rel. Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau harus berobat ke Jakarta? Seberapa parah lukamu? Ini semua karena aku tak mendengarkan kata-katamu Rel. Kuraba kepalaku yang masih terbalut perban, perih. Tapi perih ini tak sebanding dengan perih dihatiku.
Satu bulan aku hidup dalam perasaan bersalah yang terus menghimpit nurani dan batinku. Siang malam aku hanya memikirkan Aurel. Sebelum akhirnya datang surat tanpa alamat dari Aurel
Ndra, kau tak perlu cemas. Aku baik-baik saja disini. Aku sekarang mengikuti ayahku yang bekerja di luar negeri. Berat memang untuk meninggalkanmu tanpa pamit. Tapi kukira inilah jalan yang terbaik untuk kita. Lupakan saja aku, Ndra. Dan aku juga  akan mencoba melupakanmu, walau kutahu itu pasti akan sangat sulit.
Selamat tinggal Ndra
Aurel

Aku kenal betul tulisan tangan Aurel dan aku tahu surat itu memang dari Aurel, tapi aku sama sekali tak kenal dengan Aurel yang menulis surat itu. Aurel tidak akan seperti itu, dia mencintaiku, dia tidak mungkin meninggalkanku semudah itu.
Kenapa kau meninggalkanku, Rel? Kenapa kau ucapkan salam perpisahan? Kenapa kau suruh aku melupakanmu? Itu sungguh sangat mustahil bagiku, Rel. Kau telah menancapkan namamu di hatiku dan aku takkan pernah bisa untuk mencabutnya.
* * *
Dan majalah inilah yang kembali mengusik rasa cinta dan harapanku tentang Aurel yang kupendam sejak tiga tahun lalu. Majalah yang ada di genggaman tanganku ini seakan mengobarkan api semangat dalam diriku untuk kembali menemui Aurel. Sebuah artikel berjudul “ Love and a honesty”. Aku takkan pernah mempersoalkan artikel ini jika nama penulisnya bukan Aurel Recyani, Venesia.
Venesia! Aurel sekarang berada di kota Venesia. Kenapa kau pergi sejauh itu, Rel? Apakah aku harus menyusulmu ke sana? Haruskah aku menjadi lelaki pecinta yang mengejar gadis impiannya  ke ujung dunia? Venesia sangat jauh, Rel. Bagaimana aku bisa menemukanmu di kota yang asing bagiku itu. Malam itu aku tak bisa tidur memikirkan Aurel. Aku sudah terlanjur merindukannya, sangat merindukannya. Dan bila kau sekarang bertanya padaku tentang cinta, maka hanya ada satu nama, Aurel.
Venesia!! Tiba-tiba aku ingat kalau Rico, sahabat kecilku saat SMP itu sekarang tinggal di kota itu. Aku segera mencari alamat e-mail Rico di buku kenangan. Rico_Cakepz@oke.com. Kunyalakan komputerku segera. Tiba-tiba saja muncul satu tekad dalam diriku. Aku harus menemukan Aurel!!
Hi Ric, ini gw Indra. Lo masih ingetkan sama gw, teman SMP lo. gimana kabar lo sekarang? Sudah berapa banyak gadis Venesia yang lo pikat hatinya?”
Ric, gw perlu bantuan lo. Gue pengen berkunjung ke kota lo, Venesia. Gw akan mengejar cinta sejati gw kesana. Lo mau kan jadi pemadu  gw. Please Ric, ini sangat penting buat gw.
Gw akan kesana saat liburan akhir semester ini. Thank’s before!
Kutekan tombol send pada layar. Ricolah satu-satunya harapanku untuk bisa menemukan Aurel. Sambil menuggu  balasan dari Rico aku mencoba browser tentang kota Venesia. Satu jam kemudian baru datang e-mail balasan dari Rico.
Hi sowbat, mana mungkin gue bisa ngelupain temen bolos gue pas SMP. Wah rupanya Indra yang saat SMP dikenal playboy sudah berubah menjadi pecinta sejati. Dengan senang hati gue akan jadi pemadu lo di kota cantik ini. Kutunggu kedatanganmu sowbat.
Aku bernapas lega. Venesia, Aku datang!
* * *
Langit biru berpadu dengan awan putih, angin dengan lembut membelai rambut  hitam dan kulit sawo matangku yang tampak mencolok dari orang-orang yang berlalu lalang. Dan hari ini adalah akhir penantianku selama dua bulan terakhir. Aku menginjakkan kakiku di bumi Venesia tepatnya di bandara Marcopolo. Ya,Venesia memang kota asal si pedagang dan musafir yang terkenal karena pengembaraannya di negara Asia. Namanyapun diabadikan sebagai nama bandara di kota itu.
“Indra!!!” Seseorang menepuk  pundakku dari belakang. Aku segera menoleh untuk memastikan siapa yang melakukannya.
“Rico!!” Dengan refleks kami berpelukan. Sudah lama sekali aku tak berjumpa dengan sahabatku itu, sudah sekitar enam tahun. Kuperhatikan  Rico masih  sama seperti saat SMP dulu, masih setia dengan kaos dan celana selutut yang selalu menjadi andalannya.
“Akhirnya lo sampai juga, Ndra. Selamat datang di kota romantis Venesia,” ucap Rico dengan mata berbinar-binar. Terlalu berlebihan kukira, harusnya aku yang senang ada di kota ini. Aurel, aku sudah sangat dekat denganmu.
“Lo nggak banyak berubah Ric,” kataku. Rico hanya nyengir mendengar komentarku.
“Ayo Ndra, kita  langsung ke rumahku. Kau pasti sudah sangat lelah.”
Aku disambut dengan sangat hangat ketika  sampai di rumah Rico. Sebuah rumah mewah bergaya klasik khas Venesia. Papa Mama Rico ternyata  masih mengingatku, begitu juga  si  kecil Mia yang sekarang mungkin  sudah berusia 12 tahun.
“Padre1, nanti saja ngobrolnya. Kasihan, Indra pasti sangat lelah,” sergah Rico ketika Om Iwan mulai bertanya macam-macam tentang Indonesia.
“Ya sudahlah kalau begitu,” desah Om Iwan pasrah. Aku hanya tersenyum melihat tingkah ayah  dan anak itu. Rico mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua, langsung kurebahkan tubuhku di kasur begitu Rico meninggalkanku sendirian. Benar juga kata Rico aku sangat lelah. Otot-ototku terasa kaku setelah berjam-jam duduk di pesawat. Sambil berbaring kusempatkan melihat foto Aurel. Semoga jodoh menemui kita Rel!
* * *
Mentari bersinar lembut. Kuhirup kuat-kuat udara segar dari jendela kamarku. Rico sudah merencanakan akan mengajakku berkeliling kota air ini sambil mencari Aurel. Kusiapkan foto Aurel. Foto tiga tahun lalu itu  menampilkan Aurel dengan senyumnya yang menawan. Bagaimana kau sekarang, Rel? Apa rambut hitammu itu sudah kau cat pirang seperti gadis-gadis Venesia?
“Gimana Ndra, lo udah siap? Cepat turun ke meja makan. Madre2 sudah menyiapkan makanan khas Itali,” ajak Rico.
“Iya Ric, gue udah  siap dari tadi.”
Di meja  makan sudah tersedia makanan-makanan yang asing bagiku.
“Itu namanya Risotto, Ndra, nasi khas Itali, dan yang itu kau tahu sendirilah, Ndra. Dada ayam yang dibakar,” jelas Rico padaku. Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Segera kucicipi makanan di depanku itu.
“Enak, Ric.”
“Tentu aja, Madre gitu loh!”
Pagi itu juga Rico membawaku berkeliling kota Venesia, kota yang juga mendapat julukan The Queen of of the Adriatic.
“Bagaimana kalau kita pergi  ke lapangan San Marco dulu. Banyak orang di sana, mungkin ada yang tahu tentang Aurel,”  kata Rico
“Bouno idea3, Ric, gue setuju. Semoga kita bisa mendapatkan petunjuk di sana,” kupraktekkan bahasa Itali yang  dua bulan ini kupelajari.
“Ternyata lo bisa bahasa Itali juga, Ndra!” Rico tampak terkejut mendengarku berbicara bahasa Itali.
“Ya, iyalah. Indra gitu!” kataku bangga, padahal bahasa Italiku masih sangat pas-pasan.
“Sono felice4, semoga kau bisa menikmati kota ini.”
Untuk sampai ke lapangan San Marco, kami cukup berjalan kaki. Di Venesia ini sangat jarang kita temui kendaraan seperti mobil atau sepeda motor. Sesuai dengan julukan Venesia sebagai kota air, di sini banyak terdapat kanal-kanal. Penduduk menggunakan Gondola5 dan Vaporetto6 sebagai media transportasi utama. Kunikmati bangunan-bangunan tua yang berjejer rapi sejauh mata memandang. Mulai dari istana, gereja sampai museum-museum bergaya gothic. Sepanjang perjalanan ke lapangan San Marco juga banyak pedagang-pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis souvenir. Mulai dari kalung, topi, kaos ataupun gondola mini. Tapi yang paling terkenal dari Venesia  adalah souvenir gelas kristal mutu tinggi.
Lapangan San Marco sudah sangat ramai ketika kami tiba di sana. Menurut penjelasan Rico, lapangan ini awalnya dibuat sebagai pusat kegiatan kenegaraan dan keagamaan dan dalam beberapa periode juga menjadi pusat kegiatan komersial. Sekarang ini lapangan dijadikan simbol keindahan sebuah kota. Beberapa orang tampat menikmati keindahan The clock tower  dan berfoto di depannya. Ada juga orang yang memilih duduk-duduk di kafe-kafe yang ada di sekitar lapangan. Beberapa turis tampak bercanda-canda dengan burung dara. Mereka menaburi tubuh mereka dengan makanan burung dan membiarkan burung-burung dara menyerbu tubuh mereka.
Ah!!! Aku tidak boleh terlalu lama terpesona dengan suasana kota  Marco Polo ini karena tujuan pertamaku adalah Aurel. Kulihat Rico sudah mulai bertanya pada seorang laki-laki dengan bahasa Itali sambil menunjukkan foto Aurel yang tadi kuberikan. Tampak lelaki itu hanya menggeleng-geleng. Segera kuikuti apa yang dilakukan sahabatku itu. Berpuluh-puluh orang kutanyai dengan bahasa Italiku yang pas-pasan dan semua hanya menggelengkan kepala. Kenapa susah sekali menemukanmu Rel?
* * *
Senja merangkak menggantikan langit biru. Matahari perlahan menuju tempat persinggahannya. Rico mengajakku ke Porta Venezia, sebuah restoran mewah milik orang Indonesia. Kubah dengan lukisan perkebunan di Venesia tampak menonjol di pintu masuk. Kubiarkan Rico memilih menu makanan,  aku tidak tahu sama sekali tentang makanan Itali kecuali Pizza tentunya.
“Ok, kami pesan carpoccio, salmone alla griglia dan passion fruit crepes,” pesan Rico pada seorang pelayan.
“Calma gente7, Ndra, memang sulit sekali menemukan Aurel. Venesia memang kota kecil, tapi kota ini terlalu besar untuk bisa menemukan seseorang hanya dalam sehari. Besok kita cari Aurel lagi. Bila kalian berjodoh, kalian pasti akan bertemu,” ucap Rico bijak. Mungkin dari tadi Rico memperhatikan mukaku yang lesu.
“Kau benar, Rico.” Kuletakkan foto Aurel yang sedari tadi berada di tanganku.
Seorang wanita datang mengantarkan pesanan kami. Dari wajahnya aku bisa menebak bahwa dia adalah orang Indonesia. Dengan telaten wanita itu meletakkan pesanan kami di atas meja.
“Hmm, permisi Tuan, bukankah ini Nona Aurel?” Wanita itu tiba-tiba mengambil foto Aurel lalu memandangnya lama.
“Apa kamu mengenalnya, Nona?” tanyaku tak sabar.
“Tentu saja, sebelum saya bekerja di restoran ini, saya bekerja di rumah Nona Aurel.”
“Benarkah yang kau katakan?” ucapku setengah berteriak.
“Nona, bisakah kau  mengantar kami ke rumah Aurel?” tanya Rico.
“Saya ingin sekali, Tuan, tapi saya masih harus bekerja sampai malam nanti.”
“Kumohon, Nona, antarkan kami menemui Aurel sekarang juga,” rajukku dengan nada mengiba.
“Maafkan saya, Tuan, saya tidak bisa. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya.”
“Sekarang juga saya akan memintakan ijin pada manajer anda.” Tanpa menunggu jawaban, Rico segera beranjak mencari manajer Porta Venezia.
Entah bagaimana cara Rico meyakinkan, akhirnya manajer itupun setuju. Wanita bernama Nora itu pun mengantarkan kami ke tempat Aurel. Sepanjang perjalanan dengan gondola. Aku hanya diam. Hatiku gelisah. Terselip rasa takut bila nanti Aurel menolak menemuiku. Segera kutepis perasaan itu. Rel, aku yakin kau masih mencintaiku seperti aku mencintaimu.
Sekitar 10 menit berjalan kaki, Nora berhenti di sebuah rumah besar yang asri dengan taman yang luas.
“Ini rumah Nona Aurel, Tuan!” kata Nora sambil memencet bel rumah itu. Seorang wanita setengah baya keluar membuka pintu.
“Tante Rena!” Aku sedikit terkejut, wanita itu adalah mama Aurel.
“I..In…Indra!” pekik mama Aurel. Aku tahu beliau pasti sangat terkejut melihatku ada di kota ini.
“Tante, aku ingin bertemu dengan Aurel.”
“Tapi….Aurel…..”
“Kumohon, Tante. Saya jauh-jauh datang dari Indonesia hanya untuk menemuinya Tante.”
“Tapi….”
“Tante, ijinkanlah saya bertemu dengan wanita yang saya cintai tante. Saya mohon.” Tante Rena diam untuk beberapa lama.
“Baiklah!” Akhirnya tante Rena luluh. Tapi entah kenapa kulihat airmata merembesi pipinya.
Rumah Aurel tak jauh berbeda dengan rumah Rico. Tetap dengan desain klasik khas Venesia. Aku mengikuti Tante Rena dari belakang, sedangkan Rico dan Nora memilih menunggu di ruang tamu. Tante Rena berhenti di sebuah ruangan
“Ini kamar Aurel,” katanya. Aku hanya bisa diam, menahan gejolak yang tak menentu di dadaku.
“Tok….tok…tok..! Aurel ada yang ingin ketemu.” Tanpa menunggu jawaban Tante Rena membuka pintu.
Seorang gadis duduk membelakangiku di atas kursi roda. Untuk sesaat aku hanya diam. Aku tak menyangka kecelakaan itu membuat Aurel harus duduk di kursi roda.
“A..a..Aurel!” panggilku pelan. Sangat pelan. Gadis itu diam. Kuas yang ada di tangannya seketika terjatuh.
“Aurel, ini aku Rel.” Aku mengulangi memanggilnya. Gadis itu pun berbalik.
“Indra!!!!!” Binar-binar terlihat dari matanya lalu kulihat bulir-bulir jatuh dari mata indah itu. Saat itu juga rasanya aku ingin memeluk Aurel.
“Indra, a…pa yang kau lakukan di sini?”
“Apa maksudmu, Rel? Aku ke sini untuk menemuimu. Mi macherai8.”
“Sudah kubilang dalam surat itu, lupakan saja aku, Ndra.” Air mata semakin deras merembesi pipi Aurel, membuat hatiku seperti teriris-iris.
“Nggak Rel, aku nggak akan pernah bisa melupakanmu. Nggak akan bisa, Rel, sampai kapanpun.”
“Sekarang aku nggak pantas untukmu, Ndra. Aku hanya seorang gadis cacat. Aku nggak mau menjadi beban dalam hidupmu Ndra. Masih banyak wanita lain yang lebih baik dan lebih sempurna dariku. Lupakan aku, Ndra.” Mataku basah. Bagaimana bisa Aurel bicara seperti itu.
“Smettila didir cazzate, Rel. Non essere pirla9. Semua ini salahku, Rel. Aku yang membuatmu begini. Aku akan selalu mendampingimu bagaimanapun keadaanmu, Rel.”
“Calma gente Ndra, stai bene10. Aku nggak mau kau merasa bersalah karena keadaanku ini. Aku juga nggak mau kau mengasihaniku.”
“Nggak Rel, aku bukan lelaki seperti itu. Asal kau tahu Rel, tiga tahun ini aku selalu meencarimu. Tiga tahun ini kau selalu merindukanmu dan tiga tahun ini juga aku selalu mencintaimu, Rel. Menurutmu kenapa aku jauh-jauh pergi ke Venesia? Untuk apa aku ke sini kalau bukan untuk menemuimu, Rel. Aku nggak peduli kau cacat, karena aku akan menjadi kakimu. Aku mencintaimu apa adanya.”
“Tapi aku tidak mencintaimu, Ndra,” ucap Aurel pelan.
“Kau bohong, Rel. Kau bohong! Lukisan itulah buktinya!” Aku menunjuk ke kanvas yang ada di belakang Aurel.”
“Kenapa kau melukis wajahku jika kau tak mencintaiku. Jawab, Rel! Jawab! Aku tahu dari matamu kalau kau masih mencintaiku.”
“Kau benar, Ndra, aku memang mencintaimu. Aku tak pernah bisa melupakanmu, Ndra.” Aurel semakin keras menangis. Pundaknya bergetar hebat. Aku melangkah mendekat. Kupeluk tubuh Aurel untuk menenangkannya. Suasana haru menyelimuti kamar Aurel. Akhirnya aku bisa memelukmu lagi Rel. Aku janji aku nggak akan pernah meninggalkanmu dan aku akan selalu melindungimu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host