Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

Iklim Berubah, Beruang Kutub Jadi Kanibal


Perilaku kanibalisme ini disebutkan Ross memang kadang terjadi di kehidupan beruang kutub. Namun, akhir-akhir ini perilaku itu makin bertambah karena mereka mulai kesulitan mendapat sumber makanan. Beruang dewasa bukan hanya memakan beruang dewasa lain, tapi juga anak beruang.
Hasil riset Ross yang dipublikasikan lewat jurnal Arktik menyebut, "Ketika es mulai pecah dan mencair di musim panas, area es di sekitar Kepulauan Svalbard menyusut menjadi pecahan-pecahan kecil. Di beberapa area malah ada yang hilang sama sekali," ujar Ross.
"Ketika area es yang bisa digunakan beruang es menyusut, maka anjing laut (makanan beruang es) makin sedikit. Membuat perburuan beruang kutub makin menurun. Jadi, saat ini beruang muda menjadi sumber makanan yang memungkinkan buat beruang jantan dewasa."
Dalam foto-foto kanibalisme beruang kutub yang diambil oleh Ross, terlihat seekor beruang es jantan tengah menarik bangkai beruang es yang lebih kecil. Dengan rahang kuat dan tenaga yang lebih besar, si beruang dewasa menyeret bangkai itu dari satu pecahan es ke pecahan es lainnya.
Saat Ross mendekat dengan kapal, si beruang dewasa langsung bangkit dan menunjukkan dominasi atas bangkai tersebut. Sementara tak jauh dari peristiwa kanibalisme itu, terlihat seekor beruang lainnya yang diperkirakan induk dari beruang yang dimakan.
"Memakan beruang lain adalah salah satu cara mendapat makanan, ini hal yang cukup mudah buat beruang yang lebih dewasa. Dan karena kondisi es yang hilang saat ini, perilaku seperti ini akan semakin jamak dilakukan," kata Ross lagi.

Minggu, 04 Desember 2011

Sistem Panen Hujan

RUMAH DENGAN SISTEM PANEN HUJAN

Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Hamba Allah, dosen dan peneliti FP dan PPS UNSRI, sup_effendi@yahoo.co.id HP +62 816 322 71 474 Komplek Bukit Sejahtera Blok DM 99 RT 56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia Telp +62 711 441140 Palembang, 2007

Sumber: http://images.supli03.multiply.multiplycontent.com/
Video: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuA
PENGANTAR
Panen hujan bukan hal baru. Pemanfaatan air hujan untuk kehidupan manusia diyakini  sama tuanya dengan kedatangan manusia pertama dani bumi. Suatu referensi terbaik  dan terlengkap tentang proses terjadinya dan manfaat air hujan bagi kehidupan manusia tertulis dalam firman Tuhan (Al-qur’an) sejak 1400 tahun yang lalu.
Penulis dilahirkan dan dididik dari keluarga petani di salah satu desa kecamatan  Seginim kabupaten Bengkulu Selatan Bengkulu. Ayah penulis bernama H. A. Rahim dan  ibu Hj. Rahina. Keluarga seperti itu sangat memahami makna air sebagai rahmat Tuhan  Yang Maha Pemberi Rezeki. Bila tanpa air (sering diuji dengan kemarau panjang) maka  dengan sendirinya rezeki menjadi berkurang baik dalam jumlah dan keberkatannya.  Perkenalan dengan al-qur’an surat al-ambiya ayat 30 yang berbunyi: ”Kami jadikan  semua yang hidup dari air, mengapa kamu tidak mau beriman”, menjadikan penulis semakin memahami ”harga” air hujan – tidak ternilai.
Sejak masih menyewa dari bedeng ke bedeng di dasa warsa 70-an hingga 90-an penulis  mempunyai cita-cita untuk memiliki sebidang tanah di manapun berada untuk dibangun  sistem panen hujan. Sistem panen hujan yang dimaksud adalah sistem yang dibangun  untuk menampung semua air hujan yang jatuh pada lahan pekarangan dan rumah.  Alhamdulillah pada tahun 1998 bulan Agustus penulis dipertemukan dengan tetangga di  luar tembok luar kompleks tempat penulis tinggal 5 tahun sebelumnya. Dia menawarkan lahan rawa persis di berbatasan tembok kompleks Bukit Sejahtera.
Setelah dicapai saling pengertian dan perjuangan panjang (karena uang terbatas) maka  lahan rawa dengan luas 1.440 m2 itu resmi menjadi milik keluarga. Lahan ini mulai ditata.  Prinsip “tidak menimbun bila tidak menggali” mulai diterapkan. Rawa yang semula  ditanam padi itu pada bagian tertentu digali lalu tanahnya ditimbunkan di bagian yang  lainnya. Mimpi penulis ingin membangun rumah panen hujan mulai timbul dan tumbuh  dengan subur. Pembangunan rumah tersebut memperoleh pinjaman lunak dari Bank Sumsel Syariah Palembang.
Langkah awal yang lakukan adalah menggali kolam di bagian timur (disepakati sebagai bagian depan) dan di bagian barat (disepakati sebagai bagian belakang). Di bagian timur penulis rancang sebagai kolam
(a) semua air atap ditampung
(b) dari dak palsu disalurkan dengan dengan dak palsu pipa ke penyaringan
(c) air hujan ditampung ke kolam renang
(d) hujan yang jatuh di halaman ditampung di kolam depan rumah penampungan air hujan dari seluruh lahan. Luas kolam ini dirancang berukuran panjang 30 m dan lebar 12 m (25% dari luas lahan). Di bagian belakang adalah kolam penampungan air (belakangan dijadikan kolam renang) yang berasal dari sebagian besar atap rumah. Kolam renang ini berdimensi panjang 7 m lebar 5 m (2,5% dari seluruh luas lahan). Daerah yang ditimbun selanjutnya ditanami sejumlah jenis tanaman – pisang, ubikayu, sukun, kelapa, mangga, durian, pepaya dan sebagainya.
Gambar 1. Rumah panen hujan dengan pendekatan terpadu.
Sekeliling bangunan dibuat dak palsu sebagai “talang”. Alhamdulillah ¾ atap rumah sudah diarahkan saluran pengaliran air hujan menuju “cikal bakal” kolam renang. Sisa atap yang sudah dibuat talang berupa dak palsu sudah dibuat pipa penyalurannya tetapi masuk ke kolam di depan rumah. Setiap terjadi hujan lebat air hujan yang jatuh di bagian atap sebelah belakang rumah mampu menghasilkan air pengisi kolam renang puluhan meter kubik. Sedikitnya sekitar 6 sampai 10 meter kubik air bersih tertampung dalam kolam ini setiap kejadian hujan. Kolam yang bisa menyampung 40 m3 itu penuh dalam beberapa kali hujan lebat. Jumlah itu menghemat rekening ledeng hingga Rp 300 ribu per bulan bahkan lebih besar dari jumlah itu.
TANGKI AIR BERMETER, SEBAGAI BAGIAN PANEN HUJAN
Ada yang unik dengan pembangunan sistem panen hujan pada rumah penulis di Komplek Bukit Sejahtera blok DM 99 RT 56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia. Pertama, tangki tersebut yang dirancang bersama antara penulis dan James Miller (James adalah yunior penulis dari University of Cranfield Inggrisn – diundang sebagai tenaga volunter dari Silsoe Aid For Appropriate Dvelopment – SAFAD). Keunikan

Gambar 2. Tangki air bermeter
Pertama adalah meter penunjuk ketinggian muka air dalam tangki. Kedua, bentuk tangki yang bulat dan panjang – mirip peluncur satelit). James menyarankan banyak hal tentang desain tangki. Penulis juga melakukan yang sama. Namun, tukang kepercayaan penulis sudah sangat pengalaman dan bila mereka (dua orang) tidak setuju maka akan dibantahnya dan dicarikan alternatif yang dianggap paling baik. Pembuatan meteran pembaca tinggi muka air berbeda dengan saran semula yakni disatukan dengan pipa penyaluran air. Dengan menggunakan elbow dan selang trasparan serta paku clamp dibuatlah meteran tersebut. Alhamdulillah fungsinya baik dan enak dilihat. Bentuk tangki air hujan yang bulat dan panjang menjadi daya tarik tersendiri.
Yang Menarik bahwa meskipun diameternya hanya 2 m dan tingginya 3 m tetapi isinya bukan 6 m3 melainkan sekitar 10 m3. Ini menambah kekaguman penulis kepada sang pencipta jagad raya yang semuanya berbentuk bola dengan demikian luas permukaannya luas dan isinya banyak. Meski bumi dianggap planet yang berukuran “kecil” dibanding dengan kebanyakan planet lain dalam tata surya matahari kita namun karena bentuknya seperti bola maka diyakini bahwa dalam waktu lama bumi tak akan penuh dengan manusia. Bumi bisa mendukung kehidupan manusia sampai i jumlah sebanyak-banyaknya. Insya-Allah. Sejak terbangunnya tangkii bermeter ini penulis semakin ingin mengajak semua pihak untuk menerapkan sistem panen hujan tersebut di manapun. Tidak urung kepala Dinas Pendidikan kota Palembang pernah menyatakan kepada penulis tentang niat beliau untuk membangun sistem panen hujan pada sekolah-sekolah yang ada di kota Palembang. Penulis waktu itu menjawab: “siap pak, kami akan bantu”.
KEUNTUNGAN MENERAPKAN SISTEM PANEN HUJAN
Semua kita termasuk penulis masih senang dengan fadhilah sesuatu amalan. Bila seseorang beriman maka selanjutnya dia beramal shaleh. Kalau tidak maka imannya akan rusak. Karena orang beriman mirip dengan sebatang pohon yang rindang dan kuat akarnya. Pohon seperti itu harusnya menghasilkan buah yang disenangi lingkungannya – manusia, binatang dan sebagainya. Buah ini sama dengan amal shaleh. Amal shaleh yang benar harus dilengkapi dengan upaya saling berwasiat tentang kebaikan dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jadi tidak lengkap bila hanya dengan memenuhi kebutuhan sendiri- tidak mengajak orang lain. Panen hujan bukanlah hal sulit, yang penting ada kemauan. Orang yang memahami dengan baik fadhilah sesuatu perbuatan tentu tidak dengan serta merta pasti akan mengamalkannya (menerapkan teori yang ada padanya). Upaya sosialisasi atau pemberian pelatihan tentang sistem panen hujan di rumah-rumah merupakan awal yang baik. Bila telah tumbuh kesadaran bahwa panen hujan merupakan pekerjaan mulia – baik untuk diri sendir maupun lingkungan maka diyakini orang akan mengadopsinya. Maka bila semua penduduk sudah banyak menerapkan sistem panen hujan tidak saja ia akan memperoleh air hujan yang berkualitas tetapi dapat terjadi pengurangan banjir di sekeliling tempat tinggalnya.
Bagaimana sistem panen hujan bisa mengurangi banjir? Banjir yang dapat dikurangi dengan sistem panen hujan tentunya banjir yang hanya disebabkan oleh air hujan. Banjir karena limpahan air sungai akibat pasang atau banjir kiriman tidak dapat diatasi dengan panen hujan. Ambil contoh pada areal lahan seluas 1500 m2. Pada areal seluas itu bila terjadi hujan selama 1 jam dengan intensitas 50 mm/jam. Bila semua areal lahan itu kebanyakan merupakan areal kedap air- atap, pelataran dari semen, jalan aspal maka nilai karakteristik tangkapan (catchment characteristic, cc = 0,90). Dengan demikian jumlah air yang terakumulasi dari areal lahan tersebut = 1500 x 0,90 x 50 x 0,001 m = 67,5 m3. Bila ada sistem panen hu jan dalam bentuk kolam renang, tangki dan kolam ikan maka air dalam jumlah tersebut tidak akan membanjiri areal lahan. Bila dari atap seluas 250 m2 semuanya masuk ke tangki dan kolam renang maka berarti air hujan yang terpanen adalah sebanyak 1/6 x 67,5 m3 = 11,25 m3. Bila hujan dua kali dari intensitas semula maka air hujan dengan kualitas baik yang bisa disimpan adalah 22,5 m3. Jumlah ini sama dengan 6 tangki air PDAM. Bila 1 tangki harganya Rp 100 ribu maka keuntungan dari menampung air sama dengan Rp 600 ribu. Angka ini hanya menggambarkan kesyukuran kita pada-Nya.
Hujan yang dipanen secara baik dan berkala di rumah sendiri, perkantoran, pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya akan banyak selali memberi keuntungan. Keuntungan seperti ini tentu saja berdimensi waktu yang lama namun memberikan banyak manfaat – ekonomis, sosiologis, teologis dan ekologis. Secara ekonomis sudah tidak bisa diragukan lagi. Air hujan memberikan keuntungan yang berlapis dan efeknya multi. Dengan banyaknya air – ikan dan tanaman produksinya berlimpah. Air hujan yang ditampung di kolam bisa disaring dengan ijuk-pasir-arang-pasir-koral, hasilnya dimanfaatkan untuk mandi, cuci, siram tanaman dan cuci kendaraan serta halaman rumah.
Tampungan air berbentuk kolam berfungsi sebagai objek wisata yang alami. Pohon di sekitar kolam yang rindang mengundang satwa dengan bunyi yang bermacammacam. Ada kolam berarti memungkinkan dibangunnya air mancur dan/atau air terjun.
Kondisi seperti ini menjadikan penghuni rumah nyaman- serasa seperti tinggal di dekat bukit/ngarai alami. Air berisik dan terkadang ikan melompat-lompat seperti ingin bermain di sekitar jatuhnya air.
Meminta orang sekitar untuk menangkap ikan dengan cara tradisional – menggunakan waring besar seperti pukat harimau – memberikan pelajaran berharga kepada penulis dan keluarga. Tiga empat orang kepercayaan sejak lama menangkapkan ikan pada kolam di halaman rumah yang berdimensi cukup luas dan dalam itu. Tanpa ada perjanjian berapa ongkos untuk “bekarang” ikan itu mereka secara sungguh-sungguh dan sabar menangkap ikan- tidak peduli dingin atau panas matahari. Memang banyak ikan yang berhasil ditangkap. Sayang mereka melewatkan sholat zuhur dan bahkan ashar. Pada saat salah seorang terkena sengatan listrik karena saat terakhir mereka merasa lelah penulis menyarankan memakai sistem “setrum”.
Menangkap ikan dengan menggunakan setrum listrik sesungguhnya tidak dianjurkan dari aspek apapun – berbahaya bagi penangkap ikan maupun bagi ikan itu sendiri. Bagi penangkap bahaya setrum listrik dapat terjadi melalui sebab yang beragam – ada kabel telanjang dan sebagainya. Waktu itu pernah satu orang kena setrum dan hampir mati. Pada saat itulah penulis “menggugah” hatinya dengan memberikan nasehat berupa jangan tinggalkan sholat, karena Allah masih memberi kesempatan anda hidup. Tanpa jawaban yang pasti kecuali dia ingin bersedekah tanda bersyukur bahwa dia masih hidup.
Pengalaman lainnya adalah bahwa ada jenis ikan yang tidak tahan dengan himpitan derita sewaktu di-“rumah”kan sementara pada bak air berukuran 2 m x 1 m x 1 m. Banyak ikan kecil dan jenis tertentu yang mati. Ikan yang disetrum juga mati, tetapi ada jenis tertentu yang tidak mati. Terangkatnya ikan-ikan dan udang kecil tanpa diambil “pemilik” kolam menjadikan penulis sempat merenung sebagai “pelajaran” dari Tuhan. Permisalan dari kejadian ini adalah bahwa pemimpin umat semestinya “bijak” karena sepak terjang mereka banyak membuat “sengsara” masyarakat kecil. Sangat sering terjadi di sekitar kita bahwa para pemimpin sepertinya “akor-akor” tetapi pengikut mereka saling membunuh.
Gambar 4. (a). kolam penampungan air hujan yang menjadi kolam ikan ; (b) Ikan belida seberat 1 kg; (c) ikan patin 3 kg dan ikan seluang berukuran jumbo; (d) udang gala
Pelajaran lainnya yang dapat dipetik dari kolam adalah bahwa limbah domestik dari dapur ternyata tidak “mencemari” kolam yang jumlah airnya hampir 800 m3 itu. Pelajaran ini mungkin merupakan “amsalu” dari ayat al-qur’an yang menyatakan bahwa perbuatan dosa dapat “dilebur” oleh adanya “danau” kebaikan. Bahkan kedatangan  “limbah” yang kotor dan jorok itu (dua hari sekali) disambut oleh udang berbagai ukuran dan jenis, siput air, serta ikan berbagai jenis dan ukuran. Gudang tempat air dan limbah itu ternyata sejak lama telah Allah “sulap” menjadi rumah udang gala, ikan, siput dan sebagainya. Tidak kurang ribuan kilogram biomassa yang lezat dan menyehatkan itu telah membuktikan firman Tuhan “kami_jadikan_semua_yang_hidup_dari_air” itu.
“Betapa mulianya Engkau wahai Yang Maha Mulia”, penulis sering bergumam. Bayangkan ikan, udang dan siput yang sering diberi hidangan -yang busuk-busuk, basi dan tidak pernah akan dikonsumsi kembali oleh “manusia” yang mengklaim dirinya mulia itu – tumbuh dan berkembang biak dengan aneka warna dan ukuran. Ikan patin ada yang berukuran 3 kg, gurami sekitar 2 kg, ikan seluang yang lebih besar dari saudaranya di sungai-sungai, udang gala dan sebagainya. Tetangga dan para penangkap ikan bergembira dengan kehadiran ikan dan udang itu di rumah mereka. Ikan seluang menurut salah seorang tetangga baru satu kali ini berukuran “jumbo”.
“Subhanallah”. Melalui kebaikan Engkau ya Allah, biomassa yang tadinya busuk itu kami makan dengan lezatnya. Ini sama dengan pepatah yang mengatakan “keburukan dibalas dengan kebaikan”. Lezatnya udang dari kolam “serba guna” di halaman rumah penulis itu sempat dimakan dengan lahapnya oleh James Miller, tamu kami yang mengundang barokah Allah yang banyak.
BAGAIMANA KUALITAS AIR HUJAN DAN KOLAM?
Penulis telah melakukan analisis fisik, kimia dan biologis air hujan, air kolam dan air kolam yang disaring menggunakan saringan : ijuk_pasir_arang_pasir_koral_pasir_dan_batubata. Secara fisik, kimia dan biologis semua air hujan memenuhi syarat kesehatan sebagai minum, sedangjkan air kolam yang dijadikan kolam ikan tidak memenuhi persyaratan kesehatan untuk air minum. Analisis fisik-kimia-dan-biologis air dilakukan pada Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Palembang melalui kebaikan mitra penulis meliputi Birmansyah dan Heri (S2 Pengelolaan Lingkungan PPS Unsri) serta Amar Muntaha (Kandidat S3 Ilmu Lingkungan PPS Unsri).
PENUTUP
Membangun rumah sistem panen merupakan bentuk kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Bersyukur. Dari konteks apa hal itu dikatakan bersyukur. Secara hakikat, semua yang di atas permukaan langit dan bumi serta apa-apa yang ada didalamnya bertasbih kepada Tuhan mereka. Tasbih mereka itu paling tidak adalah “subhanallah” (maha suci allah – tanpa kekurangan satu apapun jua). Hujan sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan tentu bertasbih. Nah bila hujan “bertamu” ke halaman, ke atap atau ke atas lahan pertanian kita maka sebaik-baik “tuan rumah” adalah mereka yang melayani “tamunya” dengan baik. Allah sangat senang yang memuliakan tamu karena hal itu adalah bagian dari tanda syukur kepada-Nya.
Penulis berkeyakinan bahwa dengan kesyukuran di atas maka Allah telah menganugerahkan banyak sekali rezeki – melalui upaya panen hujan – pohon buah tumbuh subur, banyak burung yang datang dengan suara yang merdu, ikan dan udang beraneka-ragam, ditambah banyak tamu yang berkunjung dan sebagainya. Pemilik rumah dan rumah itu sendiri sering dipotret oleh wartawan dan gambarnya dimuat di harian, majalah, televisi dan sebagainya. “Maka nikmat mana lagi yang masih kamu dustakan?”. QS surat ar-rohman. Mari kita tunaikan tugas kita dengan baik – sebagai khalifah, hamba Allah dan da’i ilallah.
Bila anda punya ilmu pengetahuan dan teknologi tentang apa saja maka yang penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh itu disyukuri dengan jalan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan sistem panen hujan ini setelah anda paham maka penulis ingin mengajak untuk menerapkannya. Mulailah dari yang kecil, mulailah sekarang dan anjurkanlah kepada orang lain. Di sini akan berlaku ilmu yang bermanfaat dan amal jariah. Wassalamu alaikum, walhamdulillahirabbil ‘alamin.
Penulis,
H. Supli Effendi Rahim; Desember 2007; zulhijjah 1428 H Dedicated sincerely to my lates mother and father in_law: Hj Umi Kalsum, H. Damiri Rais, grand fathers Merinsan & Hamzah, grand mother Muntianan & Nurmima, Father H. Rahim, mother Hj. Rahina, sister Asmiti: last not least my wife Dr. Hj. Nurhayati & all children; my adopted father & mother H. Rohimi & family; bothers and sisters; all of my teachers in Palembang, Bengkulu and Bedford England.

RUMAH PANEN HUJAN ATAU RUMAH LESTARI

Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Sumber: http://suplirahim.multiply.com/
Sejak pendidikan di Inggris pada era 1980-1990 saya banyak merenung dan merenung. Salah satu renungan saya kala itu adalah bahwa Inggris mempunyai curah hujan yang relatif rendah yakni sekitar 700 mm per tahun. Jumlah ini hanya sekitar 25% dari apa yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Di negara kita curah hujan tahunan berkisar antara 1500 mm di bagian timur dan dapat mencapai 4500 mm di bagian barat Indonesia.
Dengan curah hujan yang jauh lebih rendah dibandingkan curah hujan negara kita ternyata Inggris jarang mengalami kekurangan air bersih (air ledeng). Selidik punya selidik ternyata mereka sudah mengerti dengan pesan dari langit – Tuhan. Meskipun mereka juga dikenal dengan negara “godless country” tetapi dalam konteks ini mereka memahami pesan Tuhan mereka – bersyukur dengan pemberian Tuhan. Tuhan memberi mereka curah hujan yang mencukupi. Mengapa bisa mencukupi?
Ternyata mereka memanen hujan antara lain dalam bentuk “runoff harvesting” (panen air limpasan). Di mana-mana dibangun danau buatan. Dengan danau yang berukuran raksasa yang menyebar di seluruh negeri maka kebutuhan air untuk irigasi dan untuk kebutuhan lainnya menjadi tercukupi. Air bersih yang mereka distribusikan kepada pelanggan juga didaur ulang sekian kali.
Kondisi kontras ternyata terjadi di tanah air kita. Kalau musim penghujan air hujan membentuk air bah (banjir). Sebaliknya di musim kemarau ketiadaan air untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) merupakan menjadi hal biasa. Dengan kondisi begini berarti tanaman dan hewan ternak tentu jauh dari kecukupan air. Banyak ternak, kolam ikan dan tanaman menjadi kekurangan air. Ironis bukan?
Beranjak dari kondisi itu saya berfikir dan bekerja keras. Yang saya lakukan adalah membangun opini di masyarakat tentang bagaimana mengubah fenomena banjir dan kekeringan ini tidak lagi menjadi fenomena derita. Walaupun tidak bisa meniadakan banjir dan kekeringan, tetapi saya ingin sekali banyak pihak menjadi sadar bahwa air yang dikirim ke bumi dari langit bukan laknat tetapi merupakan rahmat. Sebaliknya kekeringan di musim kemarau merupakan era di mana radiasi matahari merupakan sumber energi yang sangat baik untuk berlangsungnya fotosintesis. Dari proses ini dihasilkan banyak senayawa organik seperti karbohidrat, lemak dan protein. Yang dibutuhkan adalah khlorofil. Khlorofil terbentuk bila cukup air. Karena itu bila air ditampung selama musim hujan, maka akan banyak manfaatnya di musim kemarau.
Mencoba agar fenomera tersebut menjadi kenyataan saya diberi kesempatan oleh Allah, Tuhan yang maha kuasa untuk memodifikasi rumah sebagai ajang “kemarahan” saya dengan sulitnya meminta dukungan dari banyak pihak untuk membangun rumah panen hujan. Terus terang saya mempunyai uang terbatas yang tidak terbatas pada diri saya dan keluarga adalah semangat dan kasih sayang sesama. Pada tahun 1998. Saya menemukan lahan rawa di pinggir kompleks perumahan Bukit Sejahtera Palembang, tepatnya di sebelah rumah nomor DN 22, DN 23 dan DM 4. Lahan ini memanjang berukuran 59 m dan lebar 24 m. Luas lahan ini sekitar 1440 m2. Lahan ini memanjang dari timur ke barat.
Bagi saya lahan ini sangat tepat karena lahan ini merupakan tempat air (tangkapan) sewaktu musim penghujan. Untuk itu saya harus menggunakan prinsip “menggali bila ingin menimbun”. Alhamdulilah setelah lahan saya tata di mana untuk rumah di mana untuk kolam, maka di sepakati bahwa rencana bangunan rumah saya letakkan di bagian barat dan di bagian timur kolam ikan. Rencana rumah nantinya di bagian belakang akan dibangun kolam renang yang saya rencanakan berguna multi guna yakni sebagai sumber air untuk cuci pakaian, untuk penampungan air hujan dan kolam untuk mandi.
Kolam ikan di bagian timur juga saya akan gunakan dengan multi-guna yakni sebagai tempat penampungan ir hujan dari seluruh areal, tempat penampungan limbah domestik dan tempat membesarkan berbagai jenis ikan serta tempat rekreasi. Belakangan air kolam itu menjadi sumber air yang baik untuk cuci kendaraan dan sumber irigasi untuk tanaman.
Setelah enam tahunan berksperimen saya mulai “membangun” rumah panen hujan yang saya telah lama saya rencanakan. Rumah itu atapnya akan saya lengkapi dengan dak-dak palsu sebagai talang untuk penampungan air hujan. Nah tahun 2006 semua selesai dan air hujan ternyata dengan curah hujan gerimis sampai lebat akan terkumpul di kolam renang belakang rumah. Semua bisa mandi, tetapi ada sedikit yang tidak baik yakni rekening air ledeng saya tinggal 30 a/d 40 persen dibandingkan bila saya tidak mengunakan rumah panen hujan ini. Mudah2an tidak menjadikan teman2 di PDAM kecewa. Tetapi dalam fikiran saya bila ini ditiru jutaan rumah di seluruh tanah air dan bahkan dunia maka fenomena banjir dan kekeringan akan menjadi berkurang. Ok pembaca nanti saya akan cerita lebih lengkap. Wass.
videonya boleh ditengok di sini: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuA

Rumah Panen Hujan

Oleh:  H. Supli Effendi Rahim
Suatu hari di akhir November 2009 saya mengundang mahasiswa S3 PPS Unsri untuk datang ke rumah kami di Poligon blok DM 99 Palembang. Tujuannya tidak lain adalah silaturahim sambil melakukan kuliah lapangan. Sejumlah 11 mahasiswa hadir kecuali satu orang pulang kampung ke padang. hadir juga dalam kongko-kongko di teras rumah istri saya itu sejumlah mahasiswa ekstension FT Unsri yang dibimbing oleh kandidat doktor Reni Yunan.
Pertemuan yang sederhana penuh canda itu dimulai dengan sambutan saya tuan rumah tentang rumah panen hujan.
Cerita dimulai dengan ungkapan bahwa saya sudah lama sekali memahami fenomena pengelolaan rawa yang ramah lingkungan dikaitkan dengan rumah panen hujan. Ada sejumlah latar belakang mengapa saya tertarik dengan pembangunan rumah panen hujan tersebut.
Pertama, negara kita – Indonesia – selalu mengalami peristiwa banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan hasil kajian atau analisis terhadap neraca air di kawasan bukit besar dan sekitarnya maka sangat jelas bahwa kawasan di mana rumah di bangun itu mengalami surplus positif pada bulan-bulan Oktober sampai April, sebaliknya surplus negarif pada bulan-bulan Mei sampai September.
Kedua, saya ingin sekali membangun rumah sebagai contoh kepada masyarakat luas yang memanen hujan dengan berbagai cara, selain itu juga dapat mengolah air limbah domestik. Sudah merupakan fenomena yang sangat menyedihkan pada waktu hujan lebat air mengalir bebas dan terkadang sempat membanjiri daerah sekitar, sedangkan pada musim kemarau kekeringan. Bila demikian maka ada kesan bahwa air menjadi tidak bermanfaat tetapi sering juga menjadi sumber mudarat.
Ketiga, Kalau masa sekarang atau masa yang akan datang konsep rumah panen hujan ini sudah menjadi budaya sebagian besar masyarakat di suatu DAS maka diyakini bahwa tidak saja bahaya banjir bisa dielakkan tetapi juga halaman rumah adalah sumber pendapatan keluarga sekaligus terkendalinya pencemaran lingkungan.
Atas dasar tiga hal itu di samping pertimbangan lain, saya dan keluarga bersepakat untuk membangun rumah rumah panen tersebut.
Pertama, dalam pembangunan itu dilakukan penataan ruang (spatial arrangement). Dari luas tanah yang dulunya adalah rawa dengan kedalaman genangan tertinggi adalah 30 cm direkam bahwa lahan itu pada awalnya adalah tempat peresapan air sebanyak 450 m3. Dari perhitungan neraca air yang merupakan penghitungan berapa air yang masuk, berapa yang keluar, dan berapa yang dapat ditampung dengan berabagai cara (tangki, sumur, kolam renang dan kolam ikan) diperoleh angka untuk pembangunan kolam ikan. Kolam ikan yang direncanakan mempunyai fungsi yang banyak antara lain penampungan semua air yang masuk kawasan itu (air hujan dan air limbah domestik). Disepakati bahwa kolam itu berdimensi 30 m x 10 m x 4 m atau mempunyai kapasitas tampung 1200 m3. Luas kolam ini lebih kurang 25% dari luas seluruh areal. Tanah dari hasil galian kolam itu selanjutnya digunakan untuk menimbun areal 75% dengan ketinggian sekitar 100 cm dibandingkan dengan ketinggian permukaan tanah alami.
(akan dilanjutkan)

Bioretensi

Jumat, 02 Desember 2011

Tanaman Penutup Tanah

Tanaman Penutup Tanah

Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman  kerusakan oleh  erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah.
Tanaman penutup tanah berperan: (1) menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961): (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji, (b)  mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.
Tanaman penutup tanah atau tanaman pembantu dapat digolongkan dalam (Osche et al 1961):

Tanaman penutup  tanah rendah

Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar:
  • Dipakai dalam pola pertanaman rapat: Calopogonium muconoides Desv, Centrosema pubescens Benth, Mimosa invisa Mart, Peuraria phaseoloides Benth.

  • Digunakan dalam pola pertanaman barisan: Eupatorium triplinerve Vahl (daun panahan, godong, prasman, jukut prasman), Salvia occidentalis Schwartz (langon, lagetan, randa nunut), Ageratum mexicanum Sims.
  • Digunakanuntuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan), Ageratum conyzoides L (babandotan), Erechtites valerianifolia Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu), Oxalis corymbosa DC, Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaban, paitan), Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah) .

Tanaman Penutup Tanah sedang (perdu)

  • Dipakai dalam pola pertanaman teratur di antara baris tanaman pokok: Clibadium surinamense var asperum baker, Eupatorium pallessens DC (Ki Dayang, Kirinyuh)
  • Digunakan dalam pola pertanaman pagar: Lantana camara L (tahi ayam, gajahan, seruni), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan). Acacia villosa Wild (lamtoro merah), Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (johar cina, gamal), Flemingia congesta Roxb, Crotalaria striata DC., Clorataria juncea, L. Crotalaria laurifolia Poir (urek-urekan, kacang cepel),  Cajanus cajan Nillst (kacang hiris, kacang sarde)  dan Indigofera arrecta Hooscht.

  • Penggunaan di luar areal pertanaman utama dan merupakan sumber pupuk hijau dan mulsa,  untuk penghutanan dan perlindungan dinding jurang: Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemelandingan), Tithonia tagetiflora Desp, Graphtophyllum pictum Gries (daun ungu, handeuleum), Cordyline fruticosa Backer, Eupatorium riparium REG.

Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung

  • Digunakan dalam pola teratur di antara baris tanaman utama: Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Grevillea robusta A Cum, Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp (dadap), Gliricidia sepium
  • Dipakai dalam barisan: Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala
  • Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcata dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bambu apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos.

Tumbuh-tumbuhan bawah (undergrowth) alami pada perkebunan

Banyak usaha telah dilakukan pada beberapa perkebunana, terutama perkebunan karet, dalam memanfaatkan tumbuh-tumbuhan bawah alami untuk melindungi tanah.

Tumbuhan yang tidak disukai

Banyak tumbuhan  yang termasuk dalam tumbuhan pengganggu atau tidak disukai yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah atau pelindung tanah terhadap ancaman erosi. Tumbuh-tumbuhan itu tidak disukai karena sifat-sifatnya yang merugikan tanaman pokok dan sulit diberantas atau dibersihkan  dari lahan usaha pertanian: Imperata cylindrica, Panicum repens (lampuyangan), Leersia hexandra (kalamento), Saccharum spontaneum (gelagah), Anastrophus compressus dan Paspalum compressum (tumput pahit).
Sumber bahan: Sitanala Arsyad (2006). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

Inovasi Ekologi dalam Pengelolaan Tanah

Oleh: Subekti Rahayu Gulma adalah momok bagi para petani, karena bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang mereka budidayakan. Hal ini juga dialami para petani kopi di Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat. Gulma seringkali menyaingi tanaman kopi di daerah yang sekitar 70%-nya dipenuhi kebun kopi ini. Bagaimana petani setempat mengatasinya?

Di wilayah ini, gulma umumnya menjadi masalah di kebun kopi naungan sederhana (kopi yang ditanam dengan tanaman penaung jenis polong-polongan) dan kebun kopi muda. Pada kedua jenis kebun kopi ini,kerapatan tajuknya relatif terbuka, apalagi jika pohon penaungnya menggugurkan daun di musim kemarau. Celah antar tajuk memungkinkan sinar matahari menembus permukaan tanah dan memicu pertumbuhanberbagai jenis gulma. Sementara pada kebun kopi jenis multistrata (kopi yang ditanam bersama pohon buahbuahan dan kayu-kayuan), gulma tidak begitu menjadi masalah bagi petani karena tingginya kerapatan tajuk pepohonan dapat menekan pertumbuhan gulma.
Para petani biasanya membersihkan seluruh atau sebagian gulma dengan menggunakan koret (sejeniscangkul kecil). Pembersihan dengan cara ini dapat memicu terbukanya permukaan tanah yang mengawaliterjadinya erosi, terutama pada musim hujan. Biasanya petani menyisakan gulma di sebagian area kebun untuk menghalangi terjadinya erosi. Aktivitas pembersihan gulma ini menuntut alokasi waktu, tenaga, bahkan biaya untuk upah jika menggunakan jasa orang lain.

Selain disebabkan oleh metode pembersihan gulma, erosi juga dipengaruhi oleh ketebalan serasah pada kebun kopi. Serasah yang relatif tebal pada kebun kopi multistrata mengurangi terjadinya erosi tanah sehingga kesuburan tanah tetap terpelihara. Sedangkan, serasah yang relatif sedikit pada kebun kopi naungan sederhana dan kebun kopi muda memungkinan terjadinya lebih banyak erosi, sehingga penurunan kesuburan tanah menjadi lebih cepat. Hal ini terutama terjadi pada kebun yang berada pada tempat-tempat berlereng curam. Sebagai upaya konservasi tanah, para petani kopi umumnya membuat teras dan rorak di antara kebun kopi sehingga tanah yang hanyut, masuk ke dalam rorak tersebut dan tidak terbuang.
Memperkenalkan Arachis pintoi
Gulma dan menurunnya kesuburan tanah menjadi permasalahan utama bagi petani kopi di Sumberjaya, terutama pada kebun-kebun kopi naungan sederhana dan kebun kopi muda. Petani harus mengeluarkan biaya untuk pembersihan gulma dan menyediakan pupuk agar tanahnya kembali subur. Untuk mengatasi dua masalah ini, para petani kopi di Sumberjaya bersama World Agroforestry Centre (ICRAF) berupaya mencari metode yang lebih menguntungkan secara ekonomi dan ekologis.
Memanfaatkan Arachis pintoi—lebih dikenal sebagai “pintoi” di kalangan petani—kemudian menjadi pilihan bersama. Tanaman sejenis kacang-kacangan ini diperkenalkan oleh ICRAF yang bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanah (BPT) Bogor, sebagai sarana konservasi tanah sekaligus untuk menekan pertumbuhan gulma. Kedua lembaga ini mengajak petani berdiskusi mengenai penurunan kesuburan tanah dan pertumbuhan gulma yang terjadi di kebun kopinya.
Selanjutnya para petani diajak berkunjung ke daerah lain yang telah mempraktikkan penanaman A. pintoi, yaitu kebun percobaan Lembaga Penelitian Kopi serta kebun lada yang ada di Lampung Barat. Setelah kunjungan tersebut, 50 orang petani tertarik untuk menanam A. pintoi di kebun kopinya. Antusiasme  petani ini pun disambut ICRAF dan BPT Bogor dengan memberikan bantuan, berupa bibit A. pintoi dan biaya perawatan.
Waktunya Pembuktian
Ada ungkapan yang menyebutkan, “petani tidak perlu janji, tetapi perlu bukti”. Setelah menanam A. pintoi di kebun kopinya, petani dapat melihat sendiri bahwa gulma tidak tumbuh lagi, terutama alang-alang yang sangat sulit dibersihkan.
A. pintoi menghambat pertumbuhan alang-alang karena penutupan permukaan tanah oleh tanaman ini menghalangi sinar matahari yang diperlukan rimpang alang-alang untuk tumbuh dan berkembang. Tanaman yang bisa tumbuh di tempat teduh dan tahan terinjakinjak ini juga seringkali menang ketika bersaing dengan gulma untuk memperoleh air dan hara. Dengan A. pintoi, selain mengurangi risiko penggunaan herbisida, petani tak perlu lagi meluangkan waktu atau mengeluarkan biaya untuk membersihkan gulma.
A. pintoi yang tumbuh di kebun kopi mampu menutupi permukaan tanah sehingga tanah terjaga kelembabannya, tidak terkikis dan terbawa aliran air ketika hujan. Tanaman ini juga menambah unsur hara tanah melalui kemampuannya mengikat nitrogen dari udara. A. pintoi menyediakan tempat bagi mikroorganisme pengikat fosfor, yang juga membantu proses pelapukan daun dan batangnya. Oleh karenanya, serasah A. pintoi merupakan sumber makanan dan tempat hidup hewan tanah yang berguna dalam pelapukan bahan-bahan organik. Petani juga dapat memanfaatkan A. pintoi untuk makanan ternak, seperti kambing, domba, sapi, dan kerbau. Tanaman yang tidak dapat tumbuh tinggi (maksimal 30 cm) dan dapat diperbanyak dengan stek batang ini bisa menghasilkan hijauan ternak yang cukup bernutrisi.
Pendapat Petani versus Hasil Penelitian

Setelah penanaman A. pintoi di kebun kopi petani berjalan selama tiga tahun, ternyata muncul dua pendapat berbeda di kalangan petani. Dari 50 petani yang berpartisipasi, delapan petani tidak menerapkan lebih lanjut penanaman A. pintoi dengan alasan, mengubah kebun kopi menjadi kebun sayur (1 petani), menjual kebunnya (3 petani), dan merasa bahwa A. pintoi menyulitkan ketika musim panen, karena buah kopi yang jatuh di antara tanaman ini sulit ditemukan, di samping mereka juga menginginkan kebun kopi yang benar-benar bersih dari tanaman lain (4 petani). Sisanya, sebanyak 42 petani mengadopsi metode ini lebih lanjut, antara lain dengan cara mengaplikasikan A. pintoi di kebun lain miliknya, menyebarkan informasi dan manfaatnya ke petani lain, bahkan memberikan bibit ke petani lain untuk ditanam.
Pak Baridi, salah satu petani dari Desa Simpang Sari mengatakan, “Saya mendapatkan banyak pengetahuan dari para peneliti yang datang ke sini, seperti pemanfaatan A. pintoi sebagai tanaman penutup tanah. Awalnya masyarakat di Sumberjaya belum mengetahui manfaat tanaman ini. Namun atas masukan para peneliti, beberapa dari kami mencoba mempraktikkannya di sebuah lahan kecil. Hasilnya terbukti bagus dan mudah dipraktikkan. Kemudian kami mencoba menerapkannya di kebun.
Sayangnya, tidak semua petani di sini percaya dan yakin akan manfaat tanaman tersebut karena mereka belum mempraktikannya sendiri. Sebagian petani tertarik setelah melihat keberhasilan kami, kemudian ikut menerapkannya di lahan mereka.” Ternyata manfaat yang dikemukakan petani sejalan dengan hasil analisis yang dilakukan oleh para peneliti. Hasil analisis membuktikan bahwa di kebun kopi petani yang tidak ditanami A. pintoi terjadi kehilangan tanah akibat erosi sebanyak 10 kali lipat dibandingkan kebun yang ditanami. Hal ini dikarenakan akar A. pintoi dapat mencegah hanyutnya tanah oleh air dan angin. Daun-daunnya juga mengurangi kikisan tetesan air hujan. Bisa dibayangkan, betapa besar unsur hara yang hilang pada kebun yang tidak ditanami A. pintoi. Seiring hilangnya unsur hara, kesuburan tanah akan menurun dan akibatnya hasil panen pun berkurang.
Hasil Pembelajaran
Adanya perbedaan persepsi di antara petani setelah melakukan percobaan penanaman A. pintoi memberikan gambaran bahwa ada hal-hal yang perlu dipelajari dari proses adopsi suatu inovasi. Dengan mengajak petani melakukan penelitian di kebunnya, terlihat bahwa suatu inovasi akan lebih mudah diterima bila petani mendapat bukti nyata dari hasil percobaannya sendiri. Selain itu, petani yang mengadopsi perlu lebih diyakinkan dengan menyertakan bukti-bukti ilmiah berdasarkan hasil penelitian mengenai manfaat inovasi yang coba dikembangkan. Upaya ini perlu dilakukan agar mereka mengembangkan dan menyebarkan apa yang mereka peroleh ke petani lainnya.
Di samping itu, perlu juga dilakukan pendekatan kepada petani yang belum mengadopsi, untuk mengetahui alasan-alasan mengapa mereka tidak mengadopsi. Subekti Rahayu, World Agroforestry Centre (ICRAF), Jl. Cifor, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor, Jawa Barat Telp: 0251- 625415, Fax: 0251- 625416, E-mail: s.rahayu@cgiar.org Referensi Mulyoutami, E, Stefanus, E, Schalenbourg, W, Rahayu, S and Joshi, L. 2004. Pengetahuan Lokal Petani dan Inovasi Ekologi dalam Konservasi dan Pengelolaan Tanah pada Pertanian Berbasis Kopi di Sumberjaya, Lampung Barat, Agrivita 26:98-107, 18 MARET 2007
Sumber: http://www.worldagroforestry.org/af1/index.php?id=20

Jenis Tanaman Menurut Fungsinya

A. TANAMAN PENYERAP PARTIKEL LIMBAH:
  1. Agathis alba (damar)
  2. Swietenia macrophylla (mahoni daun lebar)
  3. Podocarpus imbricatus (jamuju)
  4. Myristica fragrans (pala)
  5. Pithecelebium dulce (asam landi)
  6. Cassia siamea (johar)
  7. Polyalthea longifolia (glodogan)
  8. Baringtonia asiatica (keben)
  9. Mimosrops elengi (tanjung)
B. TANAMAN PENYERAP CO2 DAN PENGHASIL O2 :
  1. Agathis alba (damar)
  2. Bauhinea purpurea (kupu-kupu)
  3. Leucena leucocephala (lamtoro gung)
  4. Acacia auriculiformis (akasia)
  5. Ficus benyamina (beringin)
C. TANAMAN PENYERAP/PENEPIS BAU  :
  1. Michelia champaka (cempaka)
  2. Pandanus sp (pandan)
  3. Murraya paniculata (kemuning)
  4. Mimosops elengi (tanjung)
D. TANAMAN UNTUK MENGATASI PENGGENANGAN  :
  1. Artocarpus integra (nangka)
  2. Paraserianthes falcaratia (albizia)
  3. Acacia vilosa
  4. Indigofera galegoides
  5. Dalbergia spp
  6. Swietenia mahagoni (mahoni)
  7. Tectona grandis (jati)
  8. Samanea sama (kihujan)
  9. Leucena glauca (lambro)
E. TANAMAN UNTUK PELESTARIAN AIR TANAH :
  1. Casuarina equisetifolia (cemara laut)
  2. Ficus elastica (fikus)
  3. Hevea brasiliensis (karet)
  4. Garcinia mangostana (manggis)
  5. Lagerstroemia speciosa (bungur)
  6. Fragraea fragrans
  7. Cocos nucifera (kelapa)
F. TANAMAN PENGAMAN PANTAI DAN ABRASI :
  1. Mangrove
  2. Avicinnea
  3. Bruguiera
  4. Nipah
Sumber: http://www.dishut.jabarprov.go.id

EFEKTIFITAS VEGETATIF DALAM KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA SUATU DAS

Oleh: Suhardi, A262030061/DAS, E-mail: suhardidas@yahoo.com
Abstract
Soil and water conservation by vegetation represent crop management technology in the form of bush or tree, good in the form of annual crop and also the crop one year and grass. This technological often allied with soil and water conservation action in management. Use vegetation target that is besides can of soil and water conservation, also earn reclamation of land from damage of effect erosion, beside own economic value especially from system agroforestry. Vegetation can enlarge to infiltration and evapotranspiration so that the rain which fall only a few becoming surface stream resulting erosion and floods but will become ground water so that the availability irrigate during the year at one particular watershed more well guaranted. Vegetation in the form of forest crop very effective in improving existence of river stream continually with debit 2,5 bigger times compared to by watershed in agriculture region. Beside that, forest also can minimize erosion till only 0,4 tons/ha/yr. Keywords : Vegetation, Conservation, and Watershed.
A. Pendahuluan
Dalam rangka pembangunan pertanian berkelanjutan, maka pengelolaan lahan harus menerapkan suatu teknologi yang berwawasan konservasi. Suatu teknologi pengelolaan lahan yang dapat mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan bilama memiliki ciri seperti : dapat meningkatkan pendapatan petani, komoditi yang diusahakan sesuai dengan kondisi bio fisik lahan dan dapat diterima oleh pasar, tidak mengakibatkan degradasi lahan karena laju erosi kecil, dan teknologi tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat (Sinukaban, 1994). Ada beberapa teknologi untuk merehabilitasi lahan dalam kaitannya dengan pembangunan yang berkelanjutan (Sinukaban, 2003) yaitu :
a. Agronomi yang meliputi teknis agronomis seperti TOT, minimum tillage, countur farming, mulsa, pergiliran tanaman (crop rotation), pengelolaan residu tanaman, dll.
b. Vegetatif berupa agroforestry, alley cropping, penanaman rumput.
c. Struktur/konstruksi yaitu bangunan konservasi seperti teras, tanggul, cek dam, Saluran, dll.
d. Manajemen berupa perubahan penggunaan lahan. Tanah dengan penutup tanah yang baik berupa vegetasi, mulsa residu tanaman akan memperkecil erosi dan run off. Harsono (1995), lahan tertutup dengan hutan, padang rumput dapat mengurangi erosi hingga kurang dari 1% dibandingkan dengan tanah terbuka.
Permukaan tanah dengan penutupan yang baik dapat berdampak terhadap :
  • Menyediakan cadangan air tanah
  • Memperbaiki/menstabilkan struktur tanah,
  • Meningkatkan kandungan hara tanah, sehingga lebih produktif
  • Mempertahankan kondisi tanah dan air.
  • Memperbaiki ekonomi petani.
Teknologi vegetatif (penghutanan) sering dipilih karena selain dapat menurunkan erosi dan sedimentasi di sungai-sungai juga memiliki nilai ekonomi (tanaman produktif) serta dapat memulihkan tata air suatu DAS (Hamilton, et.al., 1997).
B. Apakah Vegetatif Dapat Mengkonservasi Tanah dan Air?
Teknik konservasi tanah dan air dapat dilakukan secara vegetatif dalam bentuk pengelolaan tanaman berupa pohon atau semak, baik tanaman tahunan maupun tanaman setahun dan rumput-rumputan. Teknologi ini sering dipadukan dengan tindakan konservasi tanah dan air secara pengelolaan.(Sinukaban, 2003). Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat :
  1. memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah,
  2. penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi,
  3. disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi.
Fungsi lain daripada vegetasi berupa tanaman kehutanan yang tak kalah pentingnya yaitu memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menambah penghasilan petani (Hamilton, et.al., 1997). Baker (1956) dalam Foth (1995), membedakan efek penutup tanah menjadi lima kategori :
  1. Intersepsi terhadap curah hujan
  2. Mengurangi kecepatan run off
  3. Perakaran tanaman akan memperbesar granulasi dan porositas tanah.
  4. Mempengaruhi aktifitas mikro organisme yang berakibat pada meninhkatkan porositas tanah.
  5. Transpirasi tanaman akan berpengaruh pada lengas tanah pada hari berikutnya.
Penelitian oleh Kelman (1969) dalam Hamilton, et.al., (1997) di Mount APO Mindanau pada kemiringan 20% mengenai erosi pada berbagai penutup tanah seperti pada Tabel 1.

Dari tabel di atas terlihat bahwa erosi meningkat secara eksponensial dengan berkurangnya penutupan tanah. Pengelolaan tanaman penutup tanah secara intercropping dengan tanaman pohon dapat mengurangi erosi. Chang dan Cheng (1974) dalam Hamilton, et.al., (1997) meneliti tentang intercropping tanaman penutup tanah dengan citrus. Tanaman penutup tanah meliputi : Centrosema, Indegofera, Bahia grass, Guinea grass, Summer soy bean, Rice straw mulch. Hasilnya menunjukkan bahwa Bahia grass, Guinea grass dan Rice Straw mulch sangat efektif sekali untuk mencegah erosi dan run off. Pengaruh berbagai penutup tanah, praktek-praktek pengelolaan penutup tanah dan praktek konservasi terhadap erosi pada perkebunan pisang dengan kemiringan yang cukup di Taiwan dipelajari oleh Wang dkk (1970) dan Cang (1970). Wang mendapatkan bahwa barier rumput atau jalur-jalur mulsa mengurangi run-off. Tanpa adanya mulsa penutup tanah dengan indegofera atau bahia grass adalah sangat efektif dalam mengurangi run-off dan erosi. Florideo (1981) dalam Hamilton, et.al., (1997)mengamati bahwa pemangkasan selektif terhadap kelebatan pohon sebesar 40 % tidak menimbulkan erosi yang berarti. Akan tetapi penebangan hutan dimana pohon-pohonnya ditarik keluar akan menimbulkan erosi tanah C. Bagaimana Vegetatif Dapat Berfungsi Sebagai Konservasi Tanah dan Air? Vegetatif dapat berfungsi dalam konservasi tanah dan air karena ia memiliki beberapa manfaat yang mendukung terciptanya pertanian berkelanjutan. Menurut Hamilton (1997), bahwa vegetatif memeliki beberapa manfaat yang merupakan ciri pertanian berkelanjutan seperti konservasi, reklamasi dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
1. Aspek Konservasi
Aspek konservasi berupa konservasi tanah dan air melalui peningkatan infiltarasi, sehingga cadangan air tanah tersedia dan dapat mencegah terjadinya erosi baik oleh air karena aliran permukaan, maupun akibat angin dan salinasi. Menurut Mawardi (1991) bahwa secara umum infiltarasi dipengaruhi oleh:
  1. intensitas hujan atau irigasi,
  2. kandungan lengas tanah, dan
  3. faktor tanah.
Faktor tanah merupakan sifat internal tanah dan sifat lain yang dipengaruhi oleh cara pengelolaan tanah. Pengelolaan tanah dapat mempengaruhi struktur tanah, keadaan dan bentuk permukaan tanah serta keadaan tanaman. Penutupan tanah dengan vegetasi dapat meningkatkan infiltrasi karena perakaran tanaman akan memperbesar granulasi dan porositas tanah, disamping itu juga mempengaruhi aktifitas mikroorganisme yang berakibat pada meningkatkan porositas tanah (Harsono, 1995). Selanjutnya air masuk melalui infiltrasi tetap tersimpan karena tertahan oleh tanaman penutup di bawahnya  atau sisa-sisa tanaman berupa daun yang sifatnya memiliki penutupan yang rapat sehingga menekan evaporasi. Demikian halnya dengan aspek konservasi tanah, vegetasi memiliki peranan penting karena dapat mengurangi peranan hujan dalam proses terjadinya erosi. Menurut Harsono (1995), bahwa proses terjadinya erosi oleh hujan sebagai berikut :
  1. Pelepasan butiran tanah oleh hujan.
  2. Transportasi oleh hujan
  3. Pelepasan (penggerusan/scouring) oleh run off.
  4. Transportasi oleh run off.
Menurut Sukirno (1995), bahwa usaha konservasi tanah pada hakekatnya adalah pengendalian energi dari akibat tetesan hujan maupun limpasan permukaan dalam proses terjadinya erosi. Prinsip pengendalian energi ini dengan usaha :
  1. Melindungi tanah dari prediksi pukulan air hujan (erosi percik), dengan tanaman penutup tanah.
  2. Mengurangi kecepatan energi kinetik tetesan air hujan, dengan tanaman pelindung, atau pelindung lainnya.
  3. Mengurangi energi kinetik limpasan permukaan.
2. Aspek Reklamasi.
Aspek reklamasi berupa perbaikan unsur hara dari proses dekomposisi dedaunan/serasah, sehingga dapat meningkatkan unsur N, K. Kerusakan lahan banyak diakibatkan oleh erosi berupa hilangnya tanah dengan kandungan bahan organik dan Nitrogen yang sangat merugikan teristimewa terhadap tanaman bijibijian bukan leguminosa. Penurunan Nitrogen tanah dapat diperbaiki dengan menggunaan pupuk Nitrogen, tetapi membutuhkan biaya yang besar. Namun  dengan adanya sisa-sisa tanaman yang telah mengalami perombakan secara ekstensif dan tanah sampai perubahan lebih lanjut yang dikenal dengan humus dapat memperbaiki kandungan Nitrogen, Kalium, Karbon, Pospor, Sulfur, Calsium, dan Magnesium. Secara skematis, mekanisme pembentukan humus dalam perombakan sisa-sisa tanaman dalam tanah (Foth, 1995) seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Mekanisme pembentukan humus.
Gambar 1. Mekanisme pembentukan humus.
Humus mengabsorbsi sejumlah besar air dan menunjukkan ciricirinya untuk mengembang dan menyusut. Humus merupakan faktor penting dalam pembentukan struktur tanah. Humus mempunyai ciri-ciri fisik lain dan sifat fisikokimia yang menjadikan humus merupakan unsur pokok tanah yang bernilai tinggi.
3. Aspek Ekonomi.
Dimana tanaman vegetasi penutup berupa tanaman agroforestri yang dikembangkan memiliki kontribusi produksi yang nyata sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan petani. Agroforestri memiliki fungsi ekonomi bagi suatu masyarakat. Peran utama bagi petani bukan hanya produksi bahan pangan melainkan juga sebagai sumber penghasil pemasukan uang dan modal. Pendapatan petani dari system agroforestri umumnya dapat menutupi kebutuhan sehari-hari dari hasil panen secara teratur seperti lateks, damar, kopi, kayu manis dan lain-lain. Selain itu juga dapat membantu menutupi pengeluaran tahunan dari hasil panen secara musiman seperti buah-buahan, cengkeh, pala dan lain-lain. Komoditas lainnya berupa kayu juga dapat menjadi sumber uang cukup besar meskipun tidak tetap, dan dapat dianggap sebagai cadangan tabungan untuk kebutuhan mendadak.
Meskipun tidak memungkinkan akumulasi modal secara cepat dalam bentuk syste-aset yang dapat segera diuangkan, namun diverifikasi tanaman merupakan jaminan petani terhadap ancaman kegagalan panen salah satu jenis tanaman atau resiko perkembangan pasar yang sulit diperkirakan. Jika terjadi kemerosotan harga suatu komoditas, spesies ini dapat dengan mudah ditelantarkan, hingga suatu saat pemanfaatannya kembali menguntungkan. Proses tersebut tidak menyebabkan gangguan ekologi terhadap system ini, dan bahkan komoditas tersebut akan tetap hidup dalam struktur kebun dan siap untuk dipanen sewaktu-waktu. Sementara komoditas lainnya tetap akan ada yang dapat dipanen, bahkan komoditas baru dapat diintroduksi tanpa merombak system produksi yang ada.
D. Untuk Apa Vegetatif Dikembangkan pada Suatu DAS?
Teknologi vegetatif tepat diterapkan pada suatu DAS dengan distribusi debit sungai yang tidak seragam. Artinya perbedaan antara debit puncak dan aliran dasar sangat besar. Percobaan yang pernah dilakukan di Indonesia berupa membandingkan DAS untuk pertanian, dengan satu 25 % wilayahnya dihutankan kembali, dan yang lain lagi 100 % dihutankan kembali dengan Pinus mercusii, Tectona gandis, Swetenia macrophylla dan Eucalyptus alba.
Hasil dilaporkan bahwa, daerah yang dihutankan kembali aliran sungainya secara terus-menerus dalam musim kering yang besarnya 2,5 kali lipat dari aliran sungai yang berasal dari DAS untuk pertanian (Hamilton, et.al., 1997). Selanjutnya Hamilton, et.al., (1997), melaporkan pula bahwa dengan penanaman hutan mengakibatkan volume aliran mendadak yang agak lebih rendah, penurunan nyata dalam debit puncak, serta penundaan waktu tercapainya puncak yang nyata.
Percobaan Pine Tree Branch yang dilaksanakan antara tahun 1941-1960  tidak hanya menunjukkan penurunan yang besar dalam puncak musiman tertinggi, tetapi juga penurunan dalam pelepasan aliran puncak dari badai sebelum dan sesudah penanaman yang sebanding yang meliputi seluruh kisaran keadaan lengas, intensitas curah hujan dan musim (Tennesse Valley Athority, 1962 dalam Hamilton, et.al., 1997). Sebagai contoh, waktu yang diperlukan oleh 20 dan 95 persen air yang jatuh untuk mengalir ke luar dari daerah tampung masing-masing menjadi lebih lama kira-kira 5-18 kali, dan penurunan debit puncak antara 92-97 % dalam musim pertumbuhan dan 71-92 % dalam musim dorman.
Demikian halnya dengan hasil penelitian Tsukamoto yang dilaporkan pada tahun 1981 menunjukkan bahwa di Jepang debit puncak dari DAS yang gundul adalah 1,4 kali lebih besar daripada DAS yang dihutankan kembali. Hutan yang tidak terganggu merupakan penutup tanah yang baik terhadap erosi. Sedimen yang tersuspensi pada 250 juta hektar hanya terjadi sebesar 0,4 ton/ha/thn (Pauler dan Heady, 1981 dalam Hamilton, et.al., 1997). Pada hutan sekunder sedimen hanya terjadi sebesar 1,19 ton/ha/thn. Anderson (1978), mengamati bahwa erosi meningkat sebagai akibat hutan yang terbakar, sedimen terjadi sebesar 3,12 ton/ha/thn atau 5-8 kali daripada hutan yang tidak terganggu di DAS Oregon USA.
E. Penutup
Pengelolaan secara vegetatif merupakan salah satu teknologi konservasi tanah dan air dalam rangka menuju pertanian berkelanjutan. Teknologi ini dapat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dan penutupan lahan sehingga dapat meningkatkan infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi, memperbaiki hara tanah serta memiliki nilai ekonomi. Teknologi ini tepat diterapkan pada suatu DAS dengan distribusi aliran yang memiliki perbedaan yang cukup besar antara volume aliran puncak dan aliran dasar. Karena dengan menghutankan suatu DAS, maka aliran sungainya secara terus menerus dalam musim kering besarnya mencapai 2,5 kali lipat dari aliran sungai yang berasal dari DAS yang tidak berhutan.
Hutan yang tidak terganggu merupakan penutup tanah yang baik terhadap erosi. Sedimen yang tersuspensi pada 250 juta ha hanya terjadi sebesar 0,4 ton/ha/thn. Namun pada hutan yang terbakar mengakibatkan erosi meningkat, demikian halnya dengan sedimen terjadi sebesar 3,12 ton/ha/thn atau 5-8 kali daripada hutan yang tidak terganggu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1986. Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi tanah. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Foth, H.D., 1995. Dasar-dasar Ilmu Tanah. (Fundamentals of Soil Science). Gadjah Mada Univesity Press. Yogyakarta.
Hamilton, L.S. dan P.N.King, 1997. Daerah Aliran Sungai Hutan Tropika (Tropical Forested Watersheds). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Harsono, 1995. Hand Out Erosi dan Sedimentasi. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Mawardi, M., 1991. Hand Out Hidrologi Pertanian. Program Studi Mekanisasi Pertanian Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sinukaban, N. 1994. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Faperta IPB. Bogor.
Sinukaban, N., 2003. Bahan Kuliah Teknologi Pengelolaan DAS. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sukirno, 1995. Hand Out Teknik Konservasi Tanah. Program Studi Teknik Pertanian Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Permakultur

Permakultur







Siklus Hidrologi

Siklus Hidrologi

Siklus Hidrologi:

Siklus Hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:
  • Evaporasi / transpirasi – Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
  • Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah – Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
  • Air Permukaan – Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sisten Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.
Sumber: http://www.lablink.or.id/Hidro/Siklus/air-siklus.htm

SIKLUS HIDROLOGI

Siklus hidrologi diberi batasan sebagai suksesi tahapan-tahapan yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer : evaporasi dari tanah atau laut maupun air pedalaman, kondensasi untuk membentuk awan, presipitasi, akumulasi di dalam tanah maupun dalam tubuh air, dan evaporasi-kembali.
Presipitasi dalam segala bentuk (salju, hujan batu es, hujan, dan lain-lain), jatuh ke atas vegetasi, batuan gundul, permukaan tanah, permukaan air dan saluran-saluran sungai (presipitasi saluran). Air yang jatuh pada vegetasi mungkin diintersepsi (yang kemudian berevaporasi dan/atau mencapai permukaan tanah dengan menetes saja maupun sebagai aliran batang) selama suatu waktu atau secara langsung jatuh pada tanah (through fall = air tembus) khususnya pada kasus hujan dengan intensitas yang tinggi dan lama. Sebagian presipitasi berevaporasi selama perjalanannya dari atmosfer dan sebagian pada permukaan tanah. Sebagian dari presipitasi yang membasahi permukaan tanah berinfiltrasi ke dalam tanah dan bergerak menurun sebagai perkolasi ke dalam mintakat (zone) jenuh di bawah muka air tanah. Air ini secara perlahan berpindah melalui akifer ke saluran-saluran sungai. Beberapa air yang berinfiltrasi bergerak menuju dasar sungai tanpa mencapai muka air tanah sebagai aliran bawah permukaan. Air yang berinfiltrasi juga memberikan kehidupan pada vegetasi sebagai lengas tanah. Beberapa dari lengas ini diambil oleh vegetasi dan transpirasi berlangsung dari stomata daun.
Setelah bagian presipitasi yang pertama yang membasahi permukaan tanah dan berinfiltrasi, suatu selaput air yang tipis dibentuk pada permukaan tanah yang disebut dengan detensi permukaan (lapis air). Selanjutnya, detensi permukaan menjadi lebih tebal (lebih dalam) dan aliran air mulai dalam bentuk laminer. Dengan bertambahnya kecepatan aliran, aliran air menjadi turbulen (deras). Air yang mengalir ini disebut limpasan permukaan. Selama perjalanannya menuju dasar sungai, bagian dari limpasan permukaan disimpan pada depresi permukaan dan disebut cadangan depresi. Akhirnya, limpasan permukaan mencapai saluran sungai dan menambah debit sungai.
Air pada sungai mungkin berevaporasi secara langsung ke atmosfer atau mengalir kembali ke dalam laut dan selanjutnya berevaporasi. Kemudian, air ini nampak kembali pada permukaan bumi sebagai presipitasi.
Sebagaimana dapat dilihat dari Gambar  dan penjelasan singkat tentang Siklus hidrologi di atas, tangkapan daerah aliran sungai terhadap presipitasi merupakan keluaran dari saling-tindak semua proses ini. Limpasan nampak pada sistem yang sangat kompleks setelah pelintasan presipitasi melalui beberapa langkah penyimpanan dan transfer. Kompleksitas ini meningkat dengan keragaman areal vegetasi, formasi-formasi geologi, kondisi tanah dan di samping ini juga keragaman-keragaman areal waktu dari faktor-faktor iklim.

Soemarto, 1987)
Siklus Hidrologi (Sumber : Soemarto, 1987)

Gangguan Siklus Hidrologi Picu Banjir dan Kekeringan

Kapanlagi.com – Gangguan siklus hidrologi mengakibatkan banjir dan kekeringan, karena air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah menjadi “air larian”, kata pakar air Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Budi Santosa.
“Beban yang harus diterima saluran atau sungai di hilir menjadi lebih besar. Gangguan seperti ini bisa dilihat pada karakteristik sungai yang memiliki fluktuasi aliran cukup besar,” katanya.
Ia menjelaskan pada musim hujan debit aliran air sungai sangat besar bahkan terlalu besar, tetapi pada musim kemarau debit aliran air sungai sangat kecil bahkan kering sama sekali. Idealnya fluktuasi aliran sungai tidak terlalu besar atau hampir seragam.
Aliran air sungai pada musim kemarau berasal dari air di dalam tanah yang keluar dari mata air. “Kontribusi terbesar aliran sungai pada musim kemarau sebenarnya dari mata air,” katanya. Ia menduga banjir disebabkan menurunnya kapasitas saluran atau sungai akibat proses sedimentasi, buangan sampah atau bangunan air yang menghambat aliran.
Banjir yang terjadi di musim penghujan, karena sebagian besar air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dialirkan sebagai “air larian” yang akan terbuang percuma ke laut. “Ekses yang ditimbulkan adalah berkurangnya air yang meresap ke dalam tanah yang berarti bahwa simpanan air di dalam tanah juga akan berkurang.”
“Padahal simpanan air tersebutlah yang memberikan kontribusi terhadap aliran air pada mata air dan sungai pada musim kemarau,” katanya. Banjir dan kekeringan yang sering terjadi hampir setiap tahun khususnya di Jawa Tengah, telah menunjukan adanya kerusakan lingkungan dalam skala yang cukup luas.
Banjir dan kekerangan disertai pencemaran di beberapa bagian sungai merupakan gambaran suatu krisis air yang sedang dan akan dihadapi pada masa mendatang. Usaha mengatasi masalah banjir dan kekeringan adalah meningkatkan besaran resapan air ke dalam tanah yang antara lain bisa dilakukan dengan menjaga kelestarian hutan dan menghambat laju “air larian” melalui pembuatan sumur resapan.
“Air hujan sebelum masuk ke saluran dibelokan terlabih dahulu ke sumur resapan sehingga kesempatan air meresap ke dalam tanah menjadi lebih besar,” kata Budi Santosa. (*/tut)
Sumber: Kapanlagi.com, Kamis, 17 Februari 2005 09:29

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host